Mata pencaharian warga desa Alimebung beragam, ada pegawai negeri, wiraswasta, tukang, buruh, dan ada juga pedagang. Yang paling mendominasi atau 90 persen lebih warga Alimebung adalah petani. Usaha tani masyarakat di desa ini cukup maju, karena di dukung dengan lahan yang berada di dataran tanah datar dengan kondisi tanah yang subur, dan persedian air yang berlimpah. Infrastruktur irigasi-pun dibangun secara rapih, mulai dari hulu air hingga ke pintu-pintu air yang siap membagi ke lahan pertanian masyarakat.
22 September 2010
Gizi Buruk di Tengah Kampung Lumbung Pangan
Mata pencaharian warga desa Alimebung beragam, ada pegawai negeri, wiraswasta, tukang, buruh, dan ada juga pedagang. Yang paling mendominasi atau 90 persen lebih warga Alimebung adalah petani. Usaha tani masyarakat di desa ini cukup maju, karena di dukung dengan lahan yang berada di dataran tanah datar dengan kondisi tanah yang subur, dan persedian air yang berlimpah. Infrastruktur irigasi-pun dibangun secara rapih, mulai dari hulu air hingga ke pintu-pintu air yang siap membagi ke lahan pertanian masyarakat.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
5:28 PM
0
komentar
Label: Gizi Buruk
24 July 2010
Pernyataan Sikap: Pohon Untuk Kehidupan, Bukan Tambang
- di kabupaten belu
- di kabupaten ttu
- di kabupaten tts
- di kabupaten kupang
- di kabupaten manggarai
- di kabupaten manggarai timur
Berbagai bentuk penderitaan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan diantaranya:
1.Kehilangan nyawa yang terus menerus akibat tertimbun longsoran dan sakit tanpa ada upaya dari pemerintah untuk menghentikannya.
2.Penderitaan fisik dalam bentuk sesak nafas, nyeri dada, sakit kulit, batuk berdarah dan berbagai bentuk sakit fisik lain yang belum teridentifikasi.
3.Menurunnya kualitas kesehatan akibat pencemaran udara, air dan suara.
4.Menurunnya kualitas lingkungan (hilangnya sumber air, hilangnya kesuburan tanah, dan kehancuran ekosistem) dan ancaman keselamatan warga akibat hilangnya hutan dan banyaknya lubang-lubang bekas galian yang semuanya itu mengakibatkan tanah longsor, banjir, kekeringan dan berbagai bencana lainnya.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
1:47 PM
1 komentar
22 April 2010
Bantuan Anda Sangat Diperlukan untuk Anak-anak Papua
Albert B. Buntoro
Sekali waktu Fredy Turot warga asli Papua datang berkunjung ke rumah sahabatnya. Ini adalah kali pertama Fredy keluar dari desanya yang sangat terpencil. Setelah lama mereka berdiskusi Fredy berujar, ‘Bapa, saya ingin sekali ke WC untuk kencing.’ Seperti kebiasaannya, si pemilik rumah hanya memberikan petunjuk sambil menunjukkan jarinya ke arah belakang bahwa letak WC ada di sebelah almari pendingin.
Dengan wajah sedikit bingung Fredy mengikuti petunjuk tersebut. Selang beberapa menit Fredy kembali ke ruang tamu dengan raut wajah yang menampakkan kekaguman terhadap sahabatnya. Sebelum masuk dalam pembicaraan serius mereka, tiba-tiba Fredy berkata, ‘Saya kagum dengan Bapa punya WC. Rasanya begitu sejuk dan ada lampu menyala secara otomatis setiap kali saya membuka pintu WC untuk kencing.’ Spontan ketika mendengar cerita Fredy, sang pemilik rumah segera beranjak dari tempat duduk untuk membersihkan kulkasnya.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
6:59 PM
0
komentar
15 April 2010
Apakah Anda setuju Satpol PP dibubarkan?
Anda dapat mengikuti dalam clip dalam posting ini dampak buruk dari aksi kekerasan yang bermula dari Satpol PP ..
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
12:57 AM
0
komentar
02 March 2010
Meeting at children ward
By SRI MARYANTI (updated Nov 26, 2009)
When I looked at them, I immediately asked why their face looks so old. Though the two women's age was not much different from mine. Even Mama Blandina's face looked as if she was fifties while in fact she was 35 years old. There seemed to be a problem with these women. What I guessed was true, not long after talking with Ms. Blandina, her eyes became wet as soon as she told me her live. So it was with Mama Helena.
Holding her youngest child is two and a half years old, Blandina Mafani told her story. In a relatively young age, she had given birth six times. And six times did he give birth without medical help. Even more sad, for most pregnant women from the Tulleng village in Lembur subdistrict in Alor have never checked the baby to a health center or clinic. Fortunately, there were traditional midwives in the village who could be asked during childbirth. So she did not know her baby's weight at birth. Thus she did not quite understand what normal and healthy child at birth.
Health center was far away. Midwives and health workers had never visited the house. But there were more problems. Her husband forbade her to go to the clinic for this. When her youngest child was seriously ill, he remained adamant not to take him to the hospital. After some neighbors forced her, she let his son suffering from malnutrition be taken to the clinic. It was the reason why the child ended in the ward because the health center was not able to serve him. She did not participate family planning because the husband prohibited her. Some people in
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
6:18 AM
0
komentar
Label: busung lapar, English-version, Nusa Tenggara Timur, perempuan
25 November 2009
Pertemuan di Bangsal Anak
Oleh SRI MARYANTI (update 26/11/2009)
Saat aku menatap mereka, aku segera bertanya mengapa wajah mereka terlihat demikian tua. Padahal umur dua perempuan itu tidak berpaut jauh denganku. Bahkan wajah Mama Blandina yang masih berumur 35 tahun seperti perempuan usia limapuluhan. Sepertinya ada masalah dengan para perempuan di bangsal anak itu. Benar rabaanku, tidak lama setelah mengobrol dengan Ibu Blandina, matanya segera basah seiring dengan ceritanya. Demikian juga dengan Mama Helena.
Sambil menggendong anak bungsunya yang berusia 2,5 tahun, Ibu Blandina Mafani bertutur. Dalam usianya yang tergolong muda, ia telah melahirkan enam kali. Dan enam kali pula ia melahirkan tanpa pertolongan tenaga medis. Yang lebih miris lagi, selama hamil perempuan dari desa Tulleng, kecamatan Lembur, kabupaten Alor ini tak pernah memeriksakan bayinya ke puskesmas atau ke klinik. Untung ada dukun beranak di desanya yang bisa dimintai tolong saat melahirkan. Jadi ia tidak tahu berat badan anaknya ketika lahir. Dengan demikian ia juga tidak begitu paham apakah anaknya normal dan sehat saat lahir.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
5:37 PM
1 komentar
Label: budaya, busung lapar, Kebijakan, Kemiskinan, kesehatan, masyarakat adat, Nusa Tenggara Timur, perempuan, petani
27 October 2009
DEKLARASI: ALIANSI MASYARAKAT PEDULI NUSA TENGGARA TIMUR – ALMADI NTT
Kami, perwakilan masyarakat dari 11 kabupaten di NTT, yang terdiri dari kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, Rote Ndao, Lembata, TTS, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur, hari-hari ini dikumpulkan oleh keprihatinan terhadap kondisi NTT kini dan ke depan terkait dengan pemiskinan akibat alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat, maraknya korupsi dan merajalelanya kegiatan pertambangan yang mengancam kehidupan dan masa depan masyarakat NTT. Selain keprihatinan atas kondisi tersebut, kami juga disatukan oleh solidaritas atas penderitaan masyarakat NTT, khususnya masyarakat NTT yang hari-hari ini hidupnya dihancurkan oleh kegiatan pertambangan.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil di Provinsi NTT, kami terpanggil untuk memperjuangkan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat NTT – khususnya kelompok yang rentan terhadap pelanggaran hak asasi. Kami menilai, ada persoalan mendasar terkait dengan kemerosotan dan pemiskinan hidup masyarakat NTT akibat penyelewengan APBD, korupsi dan kegiatan pertambangan yang semakin mempersempit ruang hidup masyarakat.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
6:20 PM
0
komentar
Label: Konflik, masyarakat adat, Mining, Nusa Tenggara Timur, tanggapan masyarakat



Untuk Hari Ini
Babu Negara
Olkes Dadilado
Education21
Rairo
Geworfenheit
Kodrat Bergerak
Chi Yin
aha!
John's blog
ambar
andreas harsono
bibip
Space & (Indonesian) Society
dreamy gamer
sundayz
wadehel
rudy rushady
Timor Merdeka
G M
Karena Setiap Kata adalah Doa
Sarapan Ekonomi
wisat
Adhi-RACA