Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

28 July 2009

'Membiasakan Kebenaran, bukan Membenarkan Kebiasaan!'

Sri Palupi

Kalimat bijak di atas diucapkan seorang bapak, Yie Gae Tjie namanya. Ia pemilik galeri di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Di luar kota Maumere, nama Yie – begitu ia menuliskan namanya – barangkali tidak banyak dikenal. Namun siapa sangka kalau sosok etnis Cina kelahiran Maumere ini sesungguhnya adalah pejuang hak asasi.

Di galerinya yang menjual barang-barang seni dan tenun ikat itu untuk pertama kalinya saya mengenal Pak Yie. Kulit putih dan mata sipitnya yang tipikal etnis Cina membuat saya berpikir, ternyata ada juga orang Cina di Flores ini yang mau mengembangkan tenun ikat. Hal yang tidak biasa menurut pandangan saya. Maklumlah, kepala saya yang kecil ini masih belum sepenuhnya terbebas dari stereotip tentang orang Cina.

Ketika akan kembali ke Jakarta, saya sempatkan mampir ke galeri Pak Yie. Bukan untuk membeli kain tenun koleksinya, tetapi untuk bertanya satu hal saja: Apa yang membuatnya tertarik mengembangkan tenun ikat? Ternyata jawaban atas satu pertanyaan itu jauh mengalir dan membuat saya berkesimpulan, Pak Yie seorang pejuang hak asasi dengan keberanian yang jarang dimiliki orang-orang Cina pada umumnya. Kenapa saya menyebutnya demikian?

Simaklah kisahnya berikut ini.

Read More...

13 February 2009

Cirebon – Jakarta

Ahmad Budi Prayoga

Untuk salah seorang klien LBH Jakarta, 11 September 2007

Kucari keadilan sementara aku ingin bahagiakan emakku
yang di rumah tak sanggup lagi mencari nasi untuk adik-adikku
Kucari keadilan dengan kukayuh sepeda

Dari Cirebon ke Jakarta

Kucari keadilan meski kaki kiriku sejak kecil berteman dengan polio
Kucari keadilan agar aku bisa mendapatkan kerja

Tunggulah mak, sampai aku pasti dapatkan kerja
Lulus STM sepertiku masihkah mungkin menyambung lambung
Sementara tiap kali kuterima jawaban: “Tak ada lowongan."
Tak perlu lagi kautanyakan kemiskinan pada jasad ini

Kucari keadilan demi keadilan sesuap nasi untuk diriku dan keluargaku
Ijazah sekolah seperti surat kematian dalam genggaman
Diperolok merek-merek mewah di jalanan yang kulewati

Dari Cirebon ke Jakarta

Katanya hak asasi dikenal di kota metropolitan itu
Tapi dari yang kubaca di koran, banyak buruh dipehaka, ijazah dipalsukan
sementara kulihat anak-anak sekolah metropolitan bergelantungan di sudut-sudut remang diskotik

Dari Cirebon ke Jakarta

Pendidikan justru memiskinpapakan manusia
Mungkin hanya orang sepertiku yang tak diinginkan dalam rahim pertiwi negeri ini

Dari Cirebon ke Jakarta

Nasibku sereyot sepeda pancal yang kukayuh
Sementara ban sepedaku terus tak mengangkat roda nasib diriku

Dari Cirebon ke Jakarta
Tak henti aku di sini

Read More...

21 August 2008

Jika Tuhan memakai sepatu hak tinggi ..

Iswanti

Sepatuku baru, kubeli di salah satu mall di Orchad, Singapura.

Sepatu baruku memiliki hak tinggi, sekitar tujuh senti.

Walaupun hak tinggi, tapi rasanya nyaman sekali di kaki.

Teknologi tinggi memungkinkan membuat sepatu-sepatu yang nyaman di kaki, apalagi dengan bahan bagus, dan tentu saja harga bagus.

Aku mencoba sepatuku kupakai di trotoar Orchad.

Ternyata, yang bikin nyaman bukan hanya sepatunya, tetapi juga trotoar yang
memungkinkan kita berjalan menggunakan sepatu apa pun,
termasuk hak tinggi sepuluh senti sekalipun.

Hal yang tidak mungkin kulakukan di trotoar di Jakarta.
Masih untung jika ada trotoar ..

Trotoar di Jakarta sepertinya tak ada
yang cukup nyaman untuk dipakai pejalan kaki,
apalagi pakai sepatu dengan hak tinggi.

Untuk bisa berjalan di trotoar di Jakarta ..
kita harus berantem dengan sepeda motor yang naik ke trotoar,
bertoleransi dengan pedagang kaki lima,
atau banyak lubang mengangga
yang membuat kita mesti pasang mata hati-hati.

Ah susahnya berjalan kaki di Jakarta.

Ah, jika saja Tuhan memakai sepatu hak tinggi ..
mungkin kita akan agak perhatian dengan trotoar..
sebab katanya negara kita sangat berketuhanan.

Jadi kalau Tuhan senang mengenakan sepatu hak tinggi,
kita akan ramai-ramai membangun trotoar yang bagus.

Sayang ya, kita hanya menafsirkan Tuhan ada di rumah-rumah ibadah,
sehingga hanya rumah ibadah yang dipercantik.

Read More...

16 April 2006

I ask the win, I ask the tree

Below poetry was written by a noted poet, our friend named SITOK SRENGENGE, having long hair at the time, sharp looking eyes, as if he reincarnates of a great poet from the legendary kingdom of Majapahit in Java, Indonesia of early tenth centuries but living in this challenging global economic liberalization era of early twentieth century. Men and women (but more female, then), young and old, like to chase him for his charm and wit in word diction usage that he continuously digs all his life.

The win, the trees, the bees, bats, rivers, valleys, the earth, the seas would help you answering your own questions and troubles. It is what he likely tries to tell us in this poem. But it is not the answers that he offers. He invites us to ask, to ask and ask again. Are you just more doing and taking quick actions, and thereby forgetting to ask again and before anything you do, because you feel you have got the very correct answers? Are you really convinced that your answers really relate and correspond to your questions?


Aku bertanya pada angin darimana datangnya angan

Penggal puisi ini lahir dari seorang kawan penyair kita yang ternama, SITOK SRENGENGE, berambut panjang, berparas tajam, seakan pujangga datang dari zaman Majapahit tapi hidup di zaman tantangan global. Laki-laki dan perempuan (tapi lebih banyak perempuan) suka mengejarnya karena pesona diksi kata yang terus digali dalam dirinya.

Angin, pohon, lebah, kelelawar, sungai, lembah, bumi, laut membantu Anda menjawab pertanyaan Anda. Barangkali itu yang dikatakannya. Tapi bukan jawab yang dicari kawan penyair ini. Tapi pertanyaan berikutnya dan pertanyaan berikutnya. Ia mengajak kita bertanya, bertanya, bertanya. Adakah kita banyak berbuat dan bertindak, lalu kita lupa bertanya karena merasa telah mendapat jawab-jawab tuntas? Adakah Anda yakin jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda?


OSMOSIS OF ORIGIN

I ask the wind,
whence does reverie come,
the wind shakes the tips of leaves
and I see the trees paint the cycle of years

I ask the tree,
whence does time begin,
the tree opens its flower petals
and I see a bee alight down sucking honey

I ask the bee,
whence does the cell that begets my body originate,
the bee hums flying into a cave
and I see a bat shut its ears upon a stonewall

I ask the bat,
whence does sound emerge,
the bat flaps its wings up to the night sky
and I see dew glide down like a river

I ask the river,
whence does the source of milk flow,
the river shows off the mountain
and I see a valley shrouded in mist

I ask the valley,
whence does taboo,
the valley raises its shroud
and I see the naked earth swing in elegance

I ask the earth,
who does give birth to Mother,
the earth blushes, but I hear the sea answer,
"She witnesses upon fact, yet is incapable of utterance!"

I ask the sea,
who does contain her,
the sea roars, yet is drained
before fully breathing the Name

1995
(Translated by Hasif Amini)

Read More...