Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

25 November 2009

Pertemuan di Bangsal Anak

Oleh SRI MARYANTI (update 26/11/2009)

Saat aku menatap mereka, aku segera bertanya mengapa wajah mereka terlihat demikian tua. Padahal umur dua perempuan itu tidak berpaut jauh denganku. Bahkan wajah Mama Blandina yang masih berumur 35 tahun seperti perempuan usia limapuluhan. Sepertinya ada masalah dengan para perempuan di bangsal anak itu. Benar rabaanku, tidak lama setelah mengobrol dengan Ibu Blandina, matanya segera basah seiring dengan ceritanya. Demikian juga dengan Mama Helena.

Sambil menggendong anak bungsunya yang berusia 2,5 tahun, Ibu Blandina Mafani bertutur. Dalam usianya yang tergolong muda, ia telah melahirkan enam kali. Dan enam kali pula ia melahirkan tanpa pertolongan tenaga medis. Yang lebih miris lagi, selama hamil perempuan dari desa Tulleng, kecamatan Lembur, kabupaten Alor ini tak pernah memeriksakan bayinya ke puskesmas atau ke klinik. Untung ada dukun beranak di desanya yang bisa dimintai tolong saat melahirkan. Jadi ia tidak tahu berat badan anaknya ketika lahir. Dengan demikian ia juga tidak begitu paham apakah anaknya normal dan sehat saat lahir.

Read More...

27 August 2007

Pilih Mana? Rumah Sakit Pemerintah atau Swasta?

Endah MFP

Saya tak habis pikir membandingkan mutu dan biaya perawatan di rumah sakit pemerintah dan swasta. Seandainya saya tidak mengalami sendiri mungkin saya tidak percaya. Rumah sakit pemerintah ‘menolong’ saya dengan biaya lebih mahal, waktu yang tidak efisien dan hampir membahayakan mata saya karena kelambanan menanganinya.

Rabu, 8 Agustus 2007 pagi tiba-tiba kelopak mata kiri saya tidak bisa membuka dan terasa sakit. Besoknya saya coba memeriksakan mata ke poli mata yang ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, di Salemba, Jakarta. Prosedur di rumah sakit tersebut mengharuskan saya untuk mendaftar terlebih dahulu karena memang pada saat itu saya pasien baru. Untuk pendaftaran pasien mata golongan umum dikenakan tarif Rp35.000 sedangkan yang memakai Askes dikenakan tarif Rp9000.

Saya tak menaruh curiga. Bukankah sudah menjadi hal yang lumrah jika orang beranggapan berobat di rumah sakit pemerintah lebih murah ketimbang di rumah sakit swasta atau dokter spesialis yang praktek di rumah? Ini mendorong saya ketika saya sakit dan butuh pelayanan kesehatan untuk melangkah ke rumah sakit umum pusat di Jakarta itu. Semula saya menganggap pelayanan di setiap rumah sakit baik pemerintah maupun swasta memiliki mekanisme yang sama. Mungkin hanya dokternya saja yang berbeda. Tapi ternyata anggapan saya selama ini jauh dari kenyataan. Pelayanan di rumah sakit pemerintah jauh lebih buruk dari rumah sakit swasta.

Sebab, proses selanjutnya jadi serba berbalikan dengan anggapan banyak orang itu. Di rumah sakit itu saya kemudian diperiksa oleh seorang perawat di kamar 30. Di situ saya diperiksa lagi oleh beberapa dokter muda yang masih terlihat seperti mahasiswa praktek. Setelah selesai memeriksa mereka terlihat berdiskusi dan kemudian menyuruh saya ke ruangan lain untuk diperiksa lagi. Kembali saya diperiksa oleh dokter-dokter muda dan mereka menganjurkan saya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Mereka memberitahukan tarif yang harus saya bayar untuk melakukan pemeriksaan lanjutan tersebut. Biayanya Rp170.000, jumlah yang tidak sedikit bagi saya.

Saat itu pula saya tanyakan tentang diagnosa penyakit mata yang saya alami, dan mereka hanya menjawab,“Ibu lakukan pemeriksaan dulu. Kalau ada hasilnya baru kita bisa tahu.” Lalu mereka beralih ke pasien lainnya begitu saja tanpa menghiraukan saya yang masih kebingungan.

Karena didorong kecemasan dan segera ingin memperoleh kepastian tentang penyakit ini, saya menuruti anjuran mereka. Saya diperiksa dengan alat pemeriksaan lapang pandang dengan seperangkat alat. Tapi betapa kecewa dan jengkelnya saya ketika selesai pemeriksaan itu saya tetap tidak bisa mengetahui diagnosa tentang penyakit yang saya derita. Sekali lagi saya dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lainnya lagi (EMG) dengan tarif Rp175.000. Konyolnya pemeriksaan itu baru bisa laksanakan hari Senin karena jadualnya penuh. Padahal mata saya sudah sangat sakit. Bola mata sudah tidak bisa digerakkan. Lebih parahnya lagi mereka tidak menghiraukan komplain saya dan berlalu begitu saja.

Saya merasa tidak puas karena tidak bisa mengetahui diagnosa penyakit saya. Atas anjuran seorang teman saya memutuskan untuk memeriksakan kembali mata saya ke rumah sakit mata AINI di Jl. Rasuna Said, Kuningan. Setiba di rumah sakit itu saya mendaftarkan diri dengan membayar Rp130.000 dengan rincian uang pendaftaran sebesar Rp10.000 dan uang periksa Rp120.000. Setelah mendaftar saya diperiksa oleh seorang perawat kemudian ditangani oleh seorang dokter.

Saat itu saya ditangani oleh dr. Sukri M, dan dia menanyakan kronologi sakitnya mata. Setelah beberapa saat memeriksa mata saya sambil menanyakan beberapa pertanyaan dia kemudian menyatakan diagnosanya tanpa meminta saya melakukan pemeriksaan tambahan. Dia bilang ada gangguan pada ‘syaraf ketiga’ yang menggerakkan bola mata dan kelopak mata. Dia bahkan menjelaskan lebih jauh tentang adanya 12 pasang syaraf dengan fungsinya yang berbeda.

Saya tunjukkan juga obat dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ke dokter tersebut. Ia berkomentar obat tersebut hanya vitamin. Kemudian saya diminta membeli obat di apotik seharga Rp105.000. Lalu mata saya sembuh.

Saya hitung-hitung jika saya menuruti saran-saran dokter di rumah sakit pemerintah tersebut biayanya akan membengkak lebih besar. Selain itu saya juga mesti berhari-hari menahan rasa sakit agar sampai bisa diperiksa dengan EMG. Apakah mereka tidak menghiraukan perkembangan mata saya yang bisa lebih parah selama menunggu jadwal pemeriksaan? Benarkah ini hanya masalah perbedaan kualitas SDM? Ataukah masalah perbedaan manajemennya?**

Read More...

01 August 2007

Apakah harus menahan diri saat ia harus pipis atau pup?

Sri Maryanti

Seorang teman tiba-tiba datang kepadaku. Ia menanyakan apakah aku punya pembalut wanita dengan daya tampung lebih? Rupanya ia salah membeli jenis pembalut.

Aku tak memiliki pembalut yang ia maksud. Lalu aku sarankan agar ia tetap memakai pembalut yang ia miliki. Kukatakan juga jika ingin aman harus rajin menggantinya sesering mungkin.

“Masalahnya saya tidak bisa bebas bergerak ke mana-mana di tempat kerja saya,” jawabnya membuatku terkesiap. Aku baru ingat bahwa ia bekerja sebagai kasir di area parkir di gedung sebuah kompleks stasiun televisi.

Baru terbayang di benakku sekarang betapa susahnya menjadi kasir di area parkir. Ia harus berjam-jam duduk di sebuah pos, mengamati setiap mobil yang datang dan mencatat nomor polisinya sebelum si pengendara memperoleh karcis. Sampai-sampai ia harus memakai jenis pembalut yang tahan lama sampai waktu istirahat datang.

Betapa tidak sehatnya cara kerja demikian. Walaupun ia sudah memakai pembalut berdaya serap lebih, menurut sebuah majalah perempuan yang pernah kubaca, setelah darah ha’id keluar selama empat jam, akan didapati kuman-kuman di dalamnya. Maka perempuan harus rajin-rajin mengganti pembalut saat ha’id. Ya Tuhan!

Seorang dokter yang kutanya mengenai hal ini juga mendukung pendapat majalah tersebut. Ia bilang bagian pribadi perempuan akan lembab saat haid karena cairan darah. Keadaan ini membuat bakteri di sekitar vagina mudah berkembang biak. Jadi disarankan agar perempuan yang sedang ha’id sering berganti pembalut. Frekuensi penggantiannya tergantung pada banyak sedikitnya cairan yang keluar.

Lantas, bagaimana nasib temanku yang bekerja di sektor jasa parkir itu? Apakah ia harus menahan diri saat ia harus pipis atau pup? Apalagi tempat kerjanya berada di sebuah basement gedung. Pasti tidak banyak terdapat kamar kecil di sana. Aku tak berani menanyakan hal itu karena takut ia tersinggung.**

Read More...

05 April 2007

Models of ending hunger in Indonesia

HERE are approaches to end hunger in Indonesia but all of them are separated one from the other with strong short-term projects as a dominant paradigm. Which one is the best? Looking into the nature of each and the possible supporting and team working relation among them may help us to figure out what kind of approach is suitable, effective and efficient in tackling hunger in Indonesia.

What likely needed at last is appropriated implementing media programs that bridge and unite all of those diverse existing hunger-fights efforts to be transformed into common lessons learned ..


First model is complementary food program, locally called Paket PMT. This program model identifies malnutrition and hunger as problem specifically struck each individual family and that the problem is strongly associated to “disaster” almost God made. None could be taken responsible for such widespread phenomenon of ‘malnutrition’ affecting infants. Hunger in East Nusa Tenggara, for instance, has been declared as “extra-ordinary happenings” (kejadian luar biasa) that the central government needs to address with parachuting helps and aids, particularly in the form of additional foods.

Families with malnourished infants are given foodstuffs or instant foods. Monitoring activities are conducted by health cadres from among the community members in cooperation with the sub-district health centre (puskesmas). Apart from the government, international bodies and international NGOs also actively conduct such model of ending hunger in East Nusa Tenggara with distributing biscuits, instant noodles, and instant porridges. This approach is rapid and short-term because if not promptly helped those malnourished infants may die tomorrow. However, since this model is mostly not followed by long-term activities, very few sustainable impacts could be expected from the hunger-stricken communities. Though very useful on the spot rescuing the hungry, this model tends to target poor people as merely aid objects, financially high cost, fails to develop the existing potential of the poor families and communities to resolve hunger and other related problems.

Second model is feeding center yet does not involve the families with malnourished infants to take part in it. Case study of this model found in Southern Timor Tengah (TTS) in NTT is not very different from the first one but the malnourished, sick infants were put in noutrient center and directly taken care by social health workers. This model has an effective impact as well, however high cost is unavoidable and also fails to empower poor families and communities. Women or mothers are not involved since this model opts for curative approach and that malnourished infants are specifically perceived as the problem of the concerned families only. In tackling hunger therefore it fails to involve other families in the community in which the distressed family lives. The positive impacts could only be seen among few families, yet paradoxically they realized that the hunger threats are lurking soon ahead.

Third model involves women or mothers’ role in the feeding center. Women are considerred as actors as you may see in a case conducted by a Belgian nurse in Sikka district. Social workers are not needed here as compared to the second model and local foodstuffs are strongly encouraged. Malnourised children are put in the center along with the families and other relatives responsible. In the center, mothers are briefed with diverse useful knowledge and relevant skills while asked to take care of their malnourished infants. Women and the families are expected to continue taking care in the same way after the sick infants recover. However, this program model takes the same high cost and larger communities have not been actively involved with. And it fails to develop the community’s capacity to improve itself. In the long run it is hard for local people to emulate such strong organization or institution to carry out a nutrient-focused center that needs large sums of financial resources.

Fourth model sets up community-based education groups. This kind of approach is tried out in West Sumba by Seraphine Foundation. Women groups are educated while conditioning the community’s initiatives. Nutrient and health education programs are held for women groups while developing local food cooking skills, small economic activities to improve their livelihood, and community organizing. Women group education is also made possible by demanding men or their husbands and other larger families to involve. Members of the communities are encourarged and conditioned to work together in building for instance the education center makeshifts. Men take care of infants while their wives join the education activities. Malnourished infants are tackled together along with the communities. This approach takes much less financial resources since it requires the community’s initiatives to contribute, while addressing other related dimensions needed for tackling hunger. For short-term, immediate activities, this model keenly relies on the role of the existing institutions such as the hospitals in the neighboring localities. It promises however sustainabilty in the future. However, this approach requires strong, highly committed local community organizers that may mobilize people’s initiatives and supports.

What likely needed at last is an appropriated implementing media programs that bridge and unite all of those diverse existing hunger-fights efforts to be transformed into common lessons learned that may be acknowledged and supported by all related stakeholders in the province, i.e. the government, religious groups, academicians, NGO activists, international NGOs, and international bodies that work in the province.

May be you may help them.***

Link
UNICEF's 2002 IDS: Evaluation of Posyandu Revitalization

Read More...

16 October 2006

Buruh Migran (Perempuan) Rentan terhadap HIV/AIDS

Josephine

Sudah tak sedikit pekerja migran kita yang terjangkit virus HIV/AIDS. Karena kerentanan setiap tahapan migrasi, jumlah para penderita tetap tinggi. Apa yang bisa kita lakukan untuk para pahlawan devisa ini?

Berapa Buruh Migran Terjangkit HIV/AIDS sejak 1993??

  • Tahun 1993-1998: ditemukan tiga orang TKI yang bekerja di Brunei Darussalam yang terinfeksi HIV/AIDS, 2 di antaranya perempuan,Tahun 2003: tercatat 69 calon TKI (24 laki-laki dan 45 perempuan) yang tak jadi berangkat karena terinfeksi HIV (Data YPI, 2003),
  • Tahun 2004: Dari 233.626 calon TKI tujuan Timur Tengah yang melakukan tes kesehatan, teridentifikasi 203 (0.087%) positif HIV/AIDS,
  • Tahun 2005: dari 145.298 calon TKI tujuan Timur Tengah yang melakukan tes kesehatan, teridentifikasi 131 (0.09%) positif HIV/AIDS,
  • Kasus di Filipina: 28% orang dengan HIV/AIDS.

Kolega The Institute for Ecosoc Rights, Josephine dari Yogyakarta, membagikan oleh-oleh informasi untuk kita setelah menghadiri pelatihan fasilitator bertajuk “Informasi HIV/AIDS bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Solidaritas Perempuan(SP)/Serikat Buruh(SB)” di Bogor, 11-14 September 2006.HIV dan Buruh Migran

Banyaknya para korban virus pelemah ketahanan tubuh ini menunjukkan semakin cepatnya perubahan zaman. Sekarang banyak perempuan yang bermigrasi untuk mencari pekerjaan di mana mereka dibayar lebih baik dibandingkan negara asal mereka. Diperkirakan saat ini para migran perempuan mengisi hampir separuh pekerja migran di seluruh dunia. Proses migrasi yang menentukan ”pilihan” pekerjaan terhadap perempuan meliputi pekerjaan reproduktif (pekerjaan rumah tangga dan hiburan) menjadikan mereka rentan, karena pada sektor tersebut berada di luar cakupan perlindungan hukum dalam pekerjaan terutama Kode Undang-Undang Perburuhan.

Untuk menggambarkan pentingnya migran perempuan dalam pekerjaan rumah tangga, beberapa angka dikutip di sini. Tahun 2000 di Hongkong pekerja rumah tangga migran berjumlah lebih dari 202.900. Antara 1999 s.d. Juni 2001, 691.285 perempuan Indonesia meninggalkan negaranya (angka ini menggambarkan 72% dari total migran yang berasal dari Indonesia) sebagai pekerja rumah tangga.

Akibat kemiskinan, fakta menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan menjadi pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga mereka. Hal ini menyebabkan naiknya jumlah perempuan yang dengan senang hati mengambil kesempatan untuk mencari nafkah di luar negeri.

Penyebaran virus

Sejak awal 1980an, HIV telah menginfeksi lebih dari 60 juta orang. Masih banyak orang yang memiliki pemahaman yang keliru tentang HIV/AIDS. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dia menyerang sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS diartikan sebagai suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. Ada tiga tahap perkembangan HIV menjadi AIDS, yaitu stadium awal inveksi HIV dan window periode (masa jendela); stadium tanpa gejala atau HIV+, dan stadium dengan gejala dan stadium AIDS.

Kasus HIV/AIDS sebenarnya seperti fenomena gunung es. Hanya 10.156 kasus terdeteksi, padahal diperkirakan ada 90.000 sampai130.000 kasus terjadi di Indonesia. Hal ini karena orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) kurang mendapatkan informasi. Mereka tak menyadari dirinya terinfeksi. Di sisi lain ada cukup banyak kasus orang yang sudah tahu dirinya terinfeksi, enggan memeriksakan diri dan justru memilih untuk bunuh diri. Mungkin karena kurang pendampingan sehingga mereka terganggu secara psikologis.

Penularan HIV

Virus HIV terdapat dalam cairan seksual (cairan vagina dan air mani), darah, dan air susu ibu (ASI). Orang dapat terinfeksi HIV melalui kegiatan yang menyebabkan terjadinya pertukaran cairan, misalnya ketika berhubungan seksual, bayi yang diberikan ASI, dan penggunaan narkoba dengan alat suntik yang sama. Jadi, kalau bersentuhan, ciuman, tukar menukar alat makan, tidak akan terinfeksi penyakit AIDS.

Tidak mudah untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Jika Anda ingin tahu bagaimana ciri-ciri orang dengan HIV+, bercerminlah! Ciri-ciri fisik seseorang pengidap HIV+ sama saja dengan orang normal. Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV adalah melalui tes darah untuk melihat ada atau tidaknya antibodi HIV. Ada tiga macam Tes HIV: Tes Screening, Tes Konfirmasi dan Tes Alternatif.

Tes HIV idealnya melalui proses Voluntary Counseling and Testing (VCT). Biasanya tes sejenis ini dilakukan secara rahasia, sukarela dan jelas tujuannya dengan pendamping. Namun ada pula tes yang dilakukan secara paksa karena diwajibkan (mandatory), seperti yang terjadi pada buruh migran indonesia (BMI). Hal ini justru bertolak belakang dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 38/2004: “Tidak boleh mewajibkan adanya tes HIV secara mandatory atau tes HIV secara wajib bagi pekerja/buruh dalam proses rekrutmen”. KEP.68/MEN/IV/2004 dan Kaidah ILO tentang HIV/AIDS di dunia kerja juga menyatakan dengan tegas bahwa tindkan HIV tidak boleh dilakukan secara mandatory.

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV. Obat yang sekarang ada yaitu ARV (Anti Retroviral) yang digunakan sebagai terapi untuk menghambat berkembangbiaknya virus dalam tubuh. Terapi ARV memberikan kesempatan pada ODHA untuk hidup lebih produktif.

Apakah Buruh Migran rentan terhadap HIV/AIDS?

Perlu menjadi catatan juga bahwa kerentanan buruh migran terhadap HIV/AIDS terjadi di setiap tahapan migrasi. Keadaan mereka rentan karena terjebak dalam trafficking. Di dalamnya ada unsur perekrutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan dengan ancaman, paksaan, kekerasan, penculikan, pemalsuan penyalahgunaan wewenang, dll. Proses trafficking terjadi mulai saat perekrutan sampai dengan tahap pulang ke negara asal.

Kerentanan buruh migran dalam trafficking dipengaruhi situasi dan kondisi yang ada: para buruh migran berusia 14-50 tahun dalam usia produktif untuk bekerja dan seksual aktif. Hubungan seksual tidak aman, bermigrasi tidak bersama pasangan seksual (suami/istri), bekerja minimal dua tahun, tidak memiliki akses kesehatan yang memadai, rentan terhadap eksploitasi dan kekerasan, menjalani tes kesehatan masal yang tidak higienis.

Strategi jitu terhindar dari virus HIV

Beberapa tips ini penting untuk diketahui para BMI untuk terhindar dari situasi kerentanan terhadap HIV ini.

  • Jangan sampai terjebak dalam masalah trafficking! Caranya? Lakukan migrasi aman!
  • Lengkapi dengan dokumen atau surat-surat yang aman
  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang negara tujuan, pekerjaan yang ditawarkan, persyaratannya, agen penyalur, akses bantuan, dll.
  • Waspada terhadap situasi dan beberap pihakl yang dapat mendorong terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual, penipuan, bujuk rayu, dll.
  • Lakukan perlawanan dan laporkan kepada pihak berwajib ketika terjadi pelecehan dan kekerasan seksual maupun penipuan
  • Mencatat dan menghubungi tempat-tempat yang bisa membantu bila ada masalah.


Untuk menghidari kerentanan terhadap HIV ini beberapa wanti-wanti ini juga perlu diperhatikan.

  • Pastikan penggunaan jarum suntik yang steril
  • Hindari bertukar jarum suntik atau alat-alat tajam atau tusuk
  • Gunakan selalu kondom saat berhubungan seks beresiko
  • Bila ada IMS (Infeksi Menular Seksual seperti gonorhoe, sypilis, kutil kelamin, herpes genitalis, ulkus mole/chancroid, kutu kelamin dan scabies)
  • Jika memiliki masalah, bicarakan kepada orang yang dapat dipercaya atau encari tempat rujukan.


Tahap Perkembangan HIV menjadi AIDS

Stadium awal infeksi HIV dan Window Period (masa jendela). Tidak semua penderita menunjukkan gejala, tapi kebanyakan menunjukkan gejala seperti flu, letih, dan panas yang berlangsung selama 1-2 minggu. Pada tahap awal infeksi yakni 3-6 bulan sejak tertular HIV, tubuh belum membentuk antibodi secara sempurna, sehingga tes darah akan menunjukkan positif. Masa 3-6 bulan disebut ‘masa jendela’. Pada periode ini, orang tersebut sebenarnya sudah sangat potensial menularkan HIV pada orang lain. Hasil positif biasanya diperoleh setelah melewati masa 6 bulan setelah masuknya HIV tersebut.

Stadium tanpa gejala atau HIV+. Pada umumnya berlangsung selama 5-10 tahun. Pada tahap ini tidak menunjukkan gejala apapun, penderita seperti orang sehat tetapi sistem kekebalan tubuh akan menurun. Pada orang normal, didapatkan CD4: 450-1.200 sel per ml. Bila sel CD4 tersebut menurun sampai 200 atau kurang maka penderita akan masuk stadium AIDS.

Stadium dengan gejala dan stadium AIDS. Terjadi ketika kekebalan tubuh penderita telah sangat menurun. Sehingga pada tahap ini penderita mudah sekali diserang penyakit berbahaya yang mengambil kesempatan untuk muncul saat kekebalan tubuh sangat lemah (infeksi oportunistik). Penyakit-penyakit yang terutama terjasi adalah: selalu terasa lelah, pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha, panas yang berlangsung 10 hari, keringat malam, penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan akibatnya, TBC, diare yang berkangsung lama, infeksi jamur pada mulut dan tenggorokan, kanker kulit (Sarkoma Kaposi), gangguan sistem syaraf pusat, dll.


Tiga Macam Tes HIV

Tes Screening dilakukan sebagai tes tahap pertama karena lebih mudah dilakukan, lebih murah dibandingkan tes konfirmasi. Tes Screening bisa dilakukan dengan dua cara: ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent Assay) dan RAPID test, ELISA digunakan untuk mencari antibodi HIV yang ada dalam darah seseorang. Sifat tes ini sangat sensitif dalam membaca kelainan darah. RAPID Test relatif lebih murah dan pelaksanaannya cepat (Hasil diperoleh kurang dari 20 menit). Tes ini memiliki sensivitas lebih dari 99% dan spesifik lebih dari 98%.

Tes Konfirmasi dilakukan setelah diperoleh hasil yang positif dari tes screening. Tes yang digunakan adalah Western Blot. Tes ini juga melihat kehadiran antibodi HIV dengan lebih akurat, namun tes ini jauh lebih mahal dibanding ELISA.

Tes Alternative sering digunakan sebagai dasar pertimbangan pemberian obat bagi seseorangyang HIV+. Tes yang biasa digunakan adalah CD4 Count Test (Tes perhitungan CD4) dan Viral Load. CD4 Count Test mengukur dampak dari virus HIV terhadap sistem kekebalan tubuh. Dengan mengukur berapa banyak sel CD4 di dalam darah maka dokter dapat menentukan seberapa besar kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Seseorangyang sehat memiliki 500-1500 sel CD4 dalam setiap milimeter darahnya. Bila jumlah sel CD4 berada dibawah 500 dianjurkan untuk menjalani terapi pengobatan untuk penyakit-penyakit simptomatik. Viral Load mengukur jumlah virus HIV dalam darah. HIV terus-menerus berbiak dan melipatgandalkan dirinya dalam aliran darah. Lebih besar jumlah Viral Load, lebih cepat HIV berkembangbiak, dan lebih cepat sistem kekebalan tubuh dirusak. Hasil tes di atas 5.000-10.000 termasuk kategori tinggi.

Masalah HIV/AIDS adalah masalah kita bersama!**

Read More...

30 August 2006

Kami Makan Makanan Beracun Setiap Tahun

Yan Koli Bau

PAGI itu sekitar pukul tujuh waktu setempat saya tiba di rumah satu keluarga bersahaja setelah tiga jam berjalan darat dari Atambua menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 100 km dari Atambua ke arah Kupang. Perjalanan jauh pada subuh yang dingin ini sengaja saya lakukan agar sedini mungkin tiba di rumah keluarga Pak Simo. Ketika tiba di tujuan, rumah dan sekitarnya itu lengang hanya dijaga oleh seekor anjing peliharaan yang agak galak meskipun sangat kurus.

Tak lama berselang seorang perempuan setengah baya datang dari rumah sebelah. Ia mengatakan Pak Simo menginap di kebun sekaligus menjaga hasil meramunya. Sedangkan Ibu Simo sudah menyusul ke kebun sejak ayam berkokok dua kali. Tetangga itu mengatakan, anak mereka yang berumur setahun dibawa ke kebun sedangkan yang berumur tiga tahun dan lima tahun dititipkan pada tetangga sebelah.

Sesaat saya tersentak, bagaimana anak-anak ini sarapan pagi dan apa yang dimakan?

Tanpa saya tanya tetangga mengatakan bahwa sarapan pagi diatur oleh tetangga. Anak tetangga dan anak-anak Simo makan bersama apa yang ada. Pembicaraan tetangga Pak Simo ini terlontar seolah tetangga itu menangkap apa yang saya pikirkan.

Berhubung kebun Pak Simo tidak jauh, sekitar lima kilometer dari rumahnya, saya ditemani seorang anak tetangga menyusul Pak Simo ke kebunnya. Perjalanan melewati dua sungai kecil, yang satunya masih dialiri air dan satunya lagi sudah mengering. Kami membutuhkan waktu sekitar 60 menit untuk tiba di tempat tujuan sebab sepanjang jalan banyak semak duri dan jalan setapak itu sangat sempit. Setiba di tempat tujuan saya sangat terkejut sebab apa yang dimaksud kebun sunguh di luar bayangan saya. Semula saya membayangkan kebun adalah sebidang tanah yang dipagari dengan baik, ditanami aneka tanaman seperti pisang, ketela pohon, papaya, ubi jalar, dan sebagainya. Tetapi ternyata gambaran itu tidak pernah ada.

Kebun itu tak lain lahan bekas Pak Simo pernah bercocok tanam dua tahun silam. Ditumbuhi rerumputan yang sudah mengering dan semak belukar. Ada yang berduri. Tampak beberapa pohon ubi kayu yang sudah pernah diambil umbinya. Daunnya sudah menguning. Ada beberapa sudut bidang tanah itu ditumbuhi ubi jalar yang tidak terawat dan tidak ada umbinya. Beberapa pohon nenas yang baru berbuah.

Pak Simo sendiri menambatkan seekor sapinya di antara semak belukar. Menggali tanah sedalam 40-50 cm, mendirikan empat tiang dari batang pohon duri dan menutupi atapnya dengan dedaunan. Semalaman ia tidur di atas dua lembar tikar tua yang sudah berlubang. Ditemani sebilah tombak, parang dan sebuah lampu sènter yang redup, katong sirih pinang dan tembakau kampung yang diiris kasar. Terasa sangat pahit.

Pak Simo harus melakukan ini sebab seekor sapi yang dipelihara bukanlah miliknya tetapi milik juragan sapi setempat yang gagal dipasarkan sebab masih kurus dan tidak memenuhi persyaratan pasar. Tugas Pak Simo menggemukkan sapi ini selama tiga sampai empat bulan hingga memenuhi persyaratan pasar. Untuk itu ia mendapat imbalan sebanyak Rp75.000-Rp100.000.

Menurut Pak Simo upah ini sangat rendah tetapi tidak mengapa sebab dapat dipakai untuk membeli jagung atau beras untuk keluarganya. Kata Pak Simo majikannya mengatakan kepadanya, “Daripada memberi makan sapi dengan beras, lebih baik beras diberikan kepada pak Simo dalam bentuk uang. Dan pak Simo memberi rumput kepada sapi.”
Ibu Simo menyusul suaminya ke kebun. Ia kemudian meletakkan semua makanan dan air minum yang diambil dari bak air umum di depan rumah mereka. Kemudian ia langsung mencari bahan makanan (meramu).

Beginilah ceritera mereka meramu: Ibu Simo menggantungkan sebuah keranjang anyaman dari daun pandan di ketiaknya. Lalu memetik buah polong “arbila hutan”, sejenis kacang yang tumbuh liar di hutan dan beracun. Ia memasukkan arbila yang dipetiknya itu ke dalam keranjang. Buah ini mengandung racun cukup kuat. Biasanya dipergunakan untuk meracuni udang dan ikan di sungai agar lebih mudah ditangkap. Meskipun tidak mematikan tetapi ikan dan udang akan lemas dan mengapung sehingga lebih mudah ditangkap.

Tampaknya Ibu Simo sudah sangat mahir. Buah arbila hutan yang dipilih adalah yang sudah tua, menguning atau bahkan sudah kering. Apabila arbila melilit belukar cukup tinggi sehingga tidak dapat diraih Ibu Simo, Pak Simo membantu meraihnya dengan batang kayu bercabang, merundukkannya lalu menginjak belukar itu atau menggilasnya dengan batang pohon besar agar Ibu Simo dapat memetik.

Kegiatan ini berlangsung hampir selama tiga jam. Sekitar jam 11.10 waktu Indonesia tengah saya pamit dan meninggalkan mereka. Sepanjang waktu menemani istri-suami itu, mereka berceritera bahwa buah polong arbila hutan akan dipilahkan menjadi buah kering dan buah basah. Setelah itu akan dikupas.

Langkah berikutnya adalah merebus buah yang basah sendiri pada satu periuk dan buah kering pada satu periuk lain. Menurut mereka periuk tanah tradisional lebih baik karena lebih cepat menyerap racun yang terkandung dalam buah arbila hutan. Apabila air sudah mendidih, air yang sudah mendidih dibuang dan digantikan dengan air baru. Kegiatan ini diulang-ulang sampai tujuh kali atau bahkan lebih. Untuk buah yang basah bisa dilakukan tujuh kali saja sebab racunnya relatif lebih cepat terkuras. Setelah tujuh kali atau lebih direbus, mereka sudah bisa mengkonsumsinya bersama anak-anak. Menurut pengakuan mereka kegiatan ini dilakukan setiap tahun pada musim kelaparan antara bulan Juli sampai Februari saat jagung berumur pendek dipanen.

Ibu Simo akan pulang ke rumah membawa arbila yang sudah selesai diolah untuk anak-anaknya dan keluarganya makan siang dan makan malam. Arbila yang sudah direbus tujuh kali itu hanya dapat bertahan hingga malam hari, keesokan harinya harus dipanasi lagi sebab kalau tidak dipanasi akan berlendir, bau basi bahkan berjamur.

Setiba di rumah Pak Simo, saya mendapati anak-anaknya bermain di bawah pohon bersama anak-anak tetangga. Saat ditanya apakah mereka sudah makan mereka dengan spontan menjawab sudah makan sedikit jagung rebus di rumah tetangga dan masih menanti Mama pulang dari kebun bersama Ayah. Ketika ditanya apakah mereka tidak lapar, anak-anak tidak berdosa ini menjawab dengan malu-malu bahwa mereka merasa lapar tetapi sudah terbiasa. Mereka baru akan makan jika ayah dan ibunya sudah kembali dari kebun.

Pikiran saya berkelana ke mana-mana, ke kebun yang jadi gudang dan garis depan pertahanan pangan Pak Simo sekeluarga. Pikiran saya melayang ke arbila hutan yang beracun, anak-anak yang telanjang tanpa alas kaki yang dititipkan pada tetangga sejak subuh dan belum sarapan pagi sampai saat terik siang hari.

Tak terasa saya sudah menghabiskan perjalanan darat selama empat jam dan tiba kembali di kilometer 15 di depan sebuah rumah makan tempat orang kota Kupang menghabiskan uang dan membuang sisa makanan dan lauk pauk ke kolam ikan. Pikiran saja juga bergolak dan menggugat bagaimana mungkin sebuah bangsa yang sudah 60 tahun merdeka membiarkan warganya mengonsumsi makan beracun?

Tidak adakah orang, lembaga entah pemerintah atau swasta yang memiliki kerelaan hati atau mungkin juga kewajiban menyelamatkan keluarga Pak Simo dan keluarga lainnya yang mengonsumsi makanan beracun setiap tahun pada rentang waktu yang sama?

Kalau toh ada orang yang rela mengambil tugas para malaikat untuk menyelamatkan keluarga Pak Simo dan keluarga lainnya, mungkin juga tugas itu tidak mudah sebab pemerintah belum tentu memiliki data lengkap dan akurat mengenai siapa saja yang menyerupai keluarga Pak Simo, berapa jumlahnya, ada di mana saja, dan mengapa seperti itu, bagaimana menanganinya?

Tetapi inilah kenyataan, dan ada lagunya, “… Itulah Indonesia..” Mungkin keluarga Pak Simo akan melanjutkan lagu ini dengan penggalan syair “..aku berjanji padamu.. akan kembali ke kebun lagi dan mengulangi lagi tahun depan pada waktu yang sama..”**

Salam dan Selamat (me)merdeka(kan) Bangsa Indonesia!

Read More...

17 August 2006

Pertapaan Perempuan Melahirkan

Oleh Yan Koli Bau

KELUARGA Anton, sebut saja namanya begitu, bertempat tinggal di tepi jalan raya Kupang-Atambua, di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Sang suami bekerja sebagai petani sambil menjadi pedagang musiman dan juga menggarap sawah kerabatnya di Kupang. Cukup jauh jaraknya, 140 km dari rumahnya. Sang suami berpendidikan SLTA, dan isterinya SLTP. Mereka mempunyai empat orang anak. Mereka memiliki dua ekor sapi berumur dua tahun, dua ekor babi berumur dua tahun dan dua ekor anak babi, empat ekor anjing, dan belasan ekor ayam.

Apa yang dikerjakan Anton untuk menghidupi anak-anaknya dalam situasi serba terbatas? Bagaimana istrinya mencoba ikut memecahkan masalah keluarga? Tapi, ketika kemudian hamil, bagaimana ia menyesuaikan diri dengan tuntutan adat? Apakah latar belakang pendidikannya berperan dalam menyiasati persoalan adat?

Sebagai petani Anton menggarap empat ladang warisan orangtuanya secara bergantian. Kadang ia menggarap satu ladang dalam setahun, kadang dua ladang. Kemudian tahun kedua ia menggarap ladang lainnya dan yang telah digarap dibiarkan ditumbuhi belukar. Ketika hasil panen ladang tidak memuaskan, Anton menggarap sawah kerabatnya di dekat kota Kupang. Hasilnya dibagi. Anton mendapat dua pertiga dan kerabatnya sebagai pemilik sepertiga bagian. Lain waktu, saat senggang antara musim panen dan musim tebas saat dilakukan persiapan menanam berikutnya, Anton berdagang sayur-mayur dan buah-buahan ke kota Kupang.

Sang isteri mempunyai sebuah kios di tepi jalan, 30-an meter dari pondoknya yang berada persis di belakang rumah pamannya. Tanah tempat mereka tinggal milik pamannya. Mereka hanya memimjam. Menurut pengakuan ibu Anton, mereka membuka kios dengan modal sekitar Rp5 juta, dan segala perabotnya kira-kira bernilai antara Rp10 juta sampai Rp12 juta. Ibu Anton juga menuturkan bahwa penghasilan bersih dari kios tak menentu sebab banyak orang pergi ke ibukota kabupaten untuk berbelanja sebab jaraknya hanya 10 km. Banyak angkutan umum dan ojek. Di satu sisi keluarga Anton terseret jadi bagian dari ekonomi perkotaan, dengan menawarkan jasa, sementara ekonomi tetap subsisten, tetapi di sisi lain mereka juga masih berada dalam kondisi yang sangat kental nilai budaya setempat. Misalnya mereka meminjam tanah untuk membangun rumah, meminjam sawah untuk digarap, memelihara aneka ternak besar seperti sapi dan babi dan ternak kecil seperti anjing, ayam, kucing di emperan dan sampan rumah tinggal, menghuni rumah bulat, dst.

Salah satu ciri tradisional yang sangat kental adalah “pertapaan” ibu Anton ketika melahirkan. Menurut tradisi orang Timor, seorang perempuan harus tidur di dalam rumah bulat atas balai-balai beralaskan “gedhèk” (bambu dibelah membujur dan dibentangkan), lalu dialas dengan beberapa lembar tikar pandan. Balai-balai ini berketinggian sekitar 80-120 cm. Di bawah balai-balai itu dinyalakan api yang sangat besar sebab kayu yang harus dipakai adalah kayu kosambi yang arangnya keras. Terkadang dicampur dengan cemara yang arangnya juga keras. Kayu-kayu itu kayu pilihan yang sudah relatif tua, besar dan berteras. Api harus dinyalakan selama 40 hari siang dan malam. Selama itu pula ibu Anton tidak boleh mandi, tidak makan daging atau makanan lain selain jagung bose (jagung yang ditumbuk di lesung untuk dihilangkan kulit arinya). Tidak boleh dicampuri kacang atau sayuran apa saja. Di beberapa wilayah di Timor jagung bose dicampur dengan kacang kedele atau kacang hitam. Ibu Anotn mengistilahkan dirinya “dipanggang” selama 40 hari.

Ketika kami bertanya mengapa demikian, jawabnya supaya tidak masuk angin, jangan infeksi, dan tidak terjadi perdarahan. Karenanya dilarang keras makan daging. Mereka juga percaya bahwa selama 40 hari tidak boleh keluar rumah agar tidak diganggu oleh roh jahat dan dicelakai oleh orang jahat. Untuk mengantisipasi semua makanan di samping harus dipanggang sementara ia berpantang, juga akan dilakukan berbagai ritual, termasuk membakar belerang, kayu cendana, sabut kelapa, bawang putih, merah, buluh ayam, serta bahan lain untuk mengusir semua gangguan dari roh jahat pada setiap sore.

Pada hari ke empat puluh, ibu Anton mengantar anaknya ke gereja, menyerahkannya kepada pendeta atau penatua atau pejabat agama setempat, menggunting rambut sang bayi. Sejak itu bayi dan ibunya boleh keluar rumah. Sejak itu bayi sudah boleh diberi makanan tambahan secara bebas. Demikian juga sang ibu diperbolehkan makan kembali semua yang dilarang sejak kehamilan sampai 40 hari “pertapaannya”.

Menurut ibu Anton terkadang mereka sudah memberi makan bayinya sejak umur satu minggu. Tetapi makanannya harus sama dengan yang dimakan ibunya, yaitu air jagung bose saja. Ibu Anton juga sudah harus melakukan pekerjaan rutin yang dilakukannya sebelum ia melahirkan. Jumlah, jenis dan bebannya jauh lebih banyak dari yang dilakukan suaminya.

Pengamatan kami di sebuah desa di kecamatan lain, pasangan suami-istri yang sama-sama lulusan Pendidikan Guru Agama ternyata juga melakukan kebiasaan dan adat-istiadat yang sama. Kami menyudahi penelitian lapangan bukan dengan kesimpulan, tetapi justru dengan segudang pertanyaan dan rasa tak mengerti.

Apakah larangan makan yang begitu banyak bagi ibu hamil sampai 40 hari setelah melahirkan tidak berakibat negatif pada kesehatan ibu dan janin atau anak? Apakah tradisi “panggang” dapat membantu memelihara kesehatan ibu dan anak? Apakah justru tidak sebaliknya merusak kesehatan ibu dan anak, apalagi masih ditambah dengan membakar belerang dan bahan-bahan lainnya pada sore hari? Apakah memberi makan bayi terlalu dini seperti pada usia seminggu tidak membahayakan organ pencernaannya? Tidak adakah kaitan berarti antara tingkat pendidikan formal dengan perilaku suami-isteri dan kerabat dalam menghadapi kehamilan dan ibu melahirkan? Adakah gizi kurang, gizi buruk atau marasmus yang dialami beberapa keluarga di kecamatan yang sama tapi juga di kecamatan lain bukan dikarenakan oleh praktek hidup seperti itu?

Saya ingin kembali pada teman-teman pembaca sekalian. Barangkali anda mempunyai jawaban apa pun bentuknya, entah teori atau dari pengalaman, yang dapat memberikan masukan yang positif untuk membangun dan memelihara kesehatan masyarakat di Timor?**

Read More...

02 August 2006

Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (2)

MESKIPUN orang terus baku debat tentang bagaimana memahami hama-hama lapar di Nusa Tenggara Timur (hama belalang kembara, keong mas, dll.), tampaknya ada satu hal penting yang tak boleh lupa: Apakah hama itu sudah tak mengancam pertanian di Sumba lagi? Mudah-mudahan.

Namun, yang jelas, keadaannya tetap tak jelas, karena hama itu masih mungkin menyerang lagi. Saya mendapatkan kabar yang mengandaikan masih adanya ketakpastian ini dari Simon P. Pandahuki, petugas pemantau dan pengendali hama (PHT) dari dinas pertanian Sumba Timur. Apa yang dilakukannya? Bagaimana ia bisa berhasil mencegah hama belalang menghabisi sawahnya?

Karena tugasnya, Simon meninjau dan memantau bibit-bibit belalang itu muncul di mana saja. Keliling-keliling kabupaten. Naik sepeda motor. Berat juga pekerjaan pegawai negeri ini. Dia juga pernah mendampingi pakar entomologi Prof Kasumbogo Untung dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, untuk meneliti perilaku belalang kembara itu. Entah apa hasilnya untuk masyarakat Sumba. Nyaris kurang terdengar dari mulut para petani. Yang jelas, April 2006 Simon melihat puluhan ribu belalang sudah mulai ngendon lagi di hutan terdekat dari Waingapu. Wanti-wantinya perlu didengar, kalau tak ingin terlambat.

Caption: Simon Pandahuki sedang memegang bibit mimba (kiri/atas), Agus Dapa Loka (kanan/atas), Ndena Njurumana (bawah/samping)

Simon sendiri sudah tahu kunci penanganannya, tapi tampaknya hanya untuk lingkup lahan pertanian sempit. Bukan untuk proyek yang besar. Jangan-jangan belalang kembara ini tak bisa ditangani secara proyek-proyekan. Barangkali ini hikmahnya untuk masyarakat dan pemerintah. Yang jelas, tampaknya kemujarabannya layak dicoba. Soal proyek atau jangan proyek itu tampaknya soal lain, karena bersangkutan dengan berbagai aspek implementasi program dan bergantung kerangka berpikirnya bagaimana. Tapi, yang jelas, apa pun keadaan dan alasannya, coba sekali lagi bayangkan: hama belalang sudah menyerang selama delapan tahun di jangkauan wilayah dua kabupaten di pulau Sumba (juga dilaporkan terjadi di Timor). Terlalu lama dan terlalu luas. Dan sampai sekarang sebagian besar masyarakat petani sebenarnya tetap belum pasti tentang penanganan praktisnya bagaimana. Siapa yang salah? Pemerintah atau masyarakat?

Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Simon bukan karena belalang, tapi karena ia membibitkan pohon mimba di halaman rumahnya. Saya tertarik mau bawa oleh-oleh bibit pohon mimba (azadirachta indica), karena berbagai kegunaannya. Di antaranya adalah untuk pengobatan penyakit (anti diare, penyakit napas, sakit gigi, malaria, kencing manis, disentri, masuk angin, penyakit kulit [eksim, gudig] sindap, ketombe, hepatitis, gagal lever, kanker lever, jerawat.. Wah, 1001 penyakit. Hebat nggak?), dan bisa untuk macam-macam guna lain: obat nyamuk, pestisida dan pupuk organik. [Wah, wah! Itulah sebabnya saya mau tanam di pot. ☺] Nusa Tenggara Timur sendiri dikatakan sebagai kawasan di mana pohon mimba itu banyak tumbuh. Simon mengatakan mimba sebenarnya lebih banyak di Madura. Teman-teman di Jember, Jawa Timur tak asing dengan tanaman ini. Tapi hati-hati, kalau kebanyakan minum ramuan tanaman ini, bisa mandul, kata mereka.

Rumah Simon di balik kawasan pacuan kuda Waingapu dikelilingi pohon-pohon mimba. "Di dalam rumah saya tak ada nyamuk," begitu ia menyatakan keyakinan kemujaraban pohon yang rasa daunnya pahit itu. Di depan rumahnya demplot-demplotannya sudah banyak membantunya ketika mendukung proyek ratusan juta rupiah untuk menanam mimba oleh Bappeda Sumba Timur. Entah ditanam di mana pohon-pohon itu. Soalnya, petani-petani yang anak-anaknya kurang gizi kok tak tahu-menahu tentang mimba yang dahsyat kegunaannya itu.

Simon sendiri juga punya sawah sesempit 10 are, tak jauh dari saluran air bendungan Kambaniru. Dan sawahnya, menurut pengakuannya, tak pernah diserang belalang sama sekali. Hasilnya bisa sampai 800 kg gabah. Tapi kenapa kok hanya Simon saja yang bisa mencapai prestasi semacam ini? Memang tugasnya tidak jadi penyuluh sih. Tapi apa yang dilakukan para penyuluh yang lain? Terlalu banyak petani dan jumlah penyuluh kurang? Ini pendapat yang dikemukakan oleh mantan kepala dinas pertanian kabupaten Sumba Timur, yang saya temui di toko pertaniannya Aditani di kota Waingapu, tapi ternyata juga anggota DPR dan Departemen Pertanian di Jakarta.

Sambungan lain: Meskipun sudah tak ada hama belalang menyerang 2006, banyak petani masih saja menceriterakan sedikitnya hasil produksi mereka. Jumlahnya tak mencukupi untuk persediaan makanan keluarga, sekalipun.

Alasan lain yang mereka ajukan adalah hama keong mas. Di desa-desa di sekitar bendungan Kambaniru, kecamatan Waingapu, Sumba Timur, masih dikeluhkan adanya hama siput ini. Bisa kita lihat dengan mudah cangkang-cangkang bekas rumah mereka dan telur-telurnya di sawah-sawah di sekitar kelurahan Mauliru. Teman saya Agus Dapa Loka yang bertani di sekitar kelurahan Kambajawa kewalahan menghadapi keong mas.

Di pulau Jawa, lagi-lagi, seperti belalang, orang memakannya untuk tambahan protein. Di Sumba semula orang memakannya, tapi sekarang sudah jadi jijik karena siput yang telurnya seperti es krim itu sudah jadi terlalu banyak dan jadi hama. Agus Dapa Loka mengatakan telur-telurnya bahkan sudah bersarang di dinding bendungan Kambaniru. Wah.

Sementara petani pintar bisa mengendalikannya dengan memelihara bebek dan itik. Tapi banyak yang tak memelihara unggas ini meskipun mereka tahu telurnya bergizi. Atau, memasang pintu air dari bambu di mulut saluran sawah. Keong-keong akan mangkal di situ. Tinggal ambil. Malah Ndena Njurumana juga mengamati bahwa keong-keong ini bisa berguna, karena mereka hanya makan batang padi ketika masih muda. Maka bisa dimanfaatkan untuk membersihkan gulma, katanya.

Kemudian saya ceriterakan pada Agus Dapa Loka tentang kegunaan pohon mimba. Dia terheran-heran. Pohon mimba ada di belakang rumahnya, tapi dia tak tahu untuk apa. Untung tak ditebang. Juni 2006 dia mencoba ramuan mimba ini untuk membasmi wereng yang juga menyerang sawahnya. Wereng langsung tewas, tulisnya lewat pesan singkat pada saya. “Campuran dan porsi yang saya coba ternyata pas sekali,” lanjutnya dalam sms.

Siapa mau coba?**

TIPS MENARIK!
Yang ingin sedikit mencicipi pandangan udara dan sekaligus meraba latar belakang ilmu bumi dari Kota Waingapu, kawasan persawahan di pinggir kota ini yang sayangnya justru banyak anak kurang gizi, dan bendungan (sungai) Kambaniru kiranya tak rugi jika meng-klik beberapa links jasa WikiMapia yang ada dalam kalimat ini, asal sabar dikit.

Lihat tulisan sebelumnya: Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (1)

Read More...