Menerapkan
Gagasan
Kegelisahan
untuk menjadi dirinya dan menjalani hidup yang sejati membawanya kembali ke
kampung setelah 10 tahun menjadi TKI dan dua tahun bekerja di Larantuka. Mimpi
membuat badan usaha rakyat dan mengembangkan sistem ekonomi berbasis
solidaritas terus bergaung dalam benaknya. Mulailah ia menerapkan gagasannya
itu dalam organisasi “Gemohing” yang sudah berjalan di kampungnya. Namun idenya
ini mendapat tantangan dari para tua-tua dan kepala desa. Mereka menolak sistem
yang ia bangun. Mereka merasa sudah nyaman dengan sistem yang ada. Kamilus
dianggap telah mengobrak-abrik sistem yang sudah mapan itu. Menghadapi tantangan para tua-tua dan kepala
desa, Kamilus memilih mundur agar organisasi yang sudah berjalan lama itu tidak
hancur. Saat itu ia merasa idenya untuk membangun badan usaha rakyat dan
mengembangkan ekonomi berbasis solidaritas belum saatnya untuk dijalankan.
 |
| Kerja Gemohing anggota KTL 2 |
Tahun 2004
Kamilus memutuskan untuk fokus menggarap lahan dan menjadi petani. Ia menanam
ubi kayu dan kacang tanah. Oleh para warga di kampungnya ia diejek dan dianggap
tidak tahu cara bertani. Namun pada saat panen, warga berubah pikiran dalam
menilai Kamilus. Kamilus mampu menunjukkan bahwa hasil produksi ubi kayunya jauh
di atas produksi ubi kayu yang dihasilkan warga.
Read More...
Summary only...
MENJELANG 2014, ada banyak tindakan dan kebijakan irasional yang dibuat para elite dan penguasa terkait pengelolaan Republik. Hal itu di antaranya hukuman ringan bagi para koruptor di tengah masifnya tindak kejahatan korupsi, dan kebijakan pemerintah yang kian menyudutkan rakyat.
Kasus korupsi yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi semakin menggerus harapan bahwa kita bisa memerangi korupsi. Namun, bila dibaca dengan kacamata tanda-tanda zaman, sejumlah tindakan dan kebijakan tak masuk akal di atas mengisyaratkan adanya proses pembersihan masyarakat dari kekuatan destruktif yang merusak peradaban.
Kehilangan akal budi
Seorang teman mempertanyakan ke mana perginya akal sehat dan akal budi ketika dua kelompok pelajar yang sedang tawuran menyiramkan air keras ke jendela bus yang melintas dan membuat 16 penumpang terluka. Kejahatan para pelajar berusia anak-anak itu tak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat kita yang lagi sakit.
Kehilangan akal sehat dan akal budi tidak hanya tampak pada intensitas tawuran para pelajar yang kian menakutkan, tetapi juga pada perilaku elite dan penguasa yang miskin rasa malu.
Read More...
Summary only...
Sri Palupi
Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok dan maraknya kekerasan, pihak Istana melemparkan isu kudeta. Bagi saya, isu ini memperkuat indikasi bahwa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terasing dari jantung kehidupan rakyat.
Yang dikeluhkan SBY kian tidak relevan dengan masalah yang dihadapi rakyat. SBY tidak menyadari, sejatinya yang dikudeta adalah kedaulatan rakyat, bukan kekuasaan Presiden. Betapa tidak. Sebagai negara demokratis, secara normatif kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Negara diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Kepentingan rakyat berada pada posisi sentral. Namun, yang terjadi, rakyat sudah digulingkan dari kekuasaan tertingginya dan kini jatuh terjerembap di dasar piramida penderitaan.
Derita Rakyat
Indikator ekonomi makro dinilai positif, terlihat dari pertumbuhan ekonomi, arus investasi, dan peringkat sebagai negara layak utang. Namun, itu semua dicapai dengan cara-cara yang menyakiti dan menambah penderitaan rakyat. Indikasinya, pertama, parahnya ketidakadilan sosial. Indeks gini meningkat dari 0,38 di tahun 2010 menjadi 0,41 (2011). Artinya, ada 1 persen warga yang menguasai 41 persen total kekayaan Indonesia. Menurut Forbes, 25 orang terkaya Indonesia menguasai Rp 530 triliun atau setengah dari total APBN 2012. Sementara pendapatan 29 juta warga miskin dan 70 juta warga hampir miskin kian tergerus inflasi.
Read More...
Summary only...
Oleh Sri Palupi
Enggak level” adalah jawaban
seorang direktur PT Kereta Api Indonesia yang saya terima melalui pesan
singkat. Kala itu, saya bertanya mengapa direktur PT KAI tidak mau berdialog
dengan para pedagang kecil yang diusir dari seluruh lahan stasiun. Mereka pun
merasa diperlakukan tidak adil.
Sebagai pedagang kecil, mereka
disingkirkan dari seluruh lahan stasiun. Namun, pemodal besar yang berdagang di
area yang sama tak digusur, bahkan mendapat tempat istimewa. Padahal, para
pedagang kecil membayar sewa kepada pihak stasiun hingga puluhan juta rupiah
setahun.
Di mata PT KAI, besarnya sewa
yang dibayar pedagang kecil enggak level jika dibandingkan dengan pedagang
pemodal besar lain. Direktur PT KAI menyatakan, para pedagang menempati lahan
stasiun dengan bayar sewa murah dan PT KAI tidak punya urusan dengan pedagang.
Sikap merasa rugi memberikan ruang
hidup bagi rakyat, bukan monopoli PT KAI, tetapi merupakan konsekuensi dari
arah kebijakan pemerintahan SBY yang cenderung meninggalkan rakyat.
Read More...
Summary only...
E-Book: DARURAT PENDIDIKAN: Sebuah Tinjauan Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Hak di Indonesia, 2012 by The-Institute-for-Ecosoc-Rights
Teman-teman sekalian, kami bangga bisa membantu Anda sekalian untuk memahami masalah pendidikan di Indonesia dari pendekatan hak asasi manusia. Kami sudah berjerihpayah selama lebih dari satu tahun selama tahun 2012 menekuni masalah pendidikan dan hak asasi manusia di Indonesia ini. Semoga Anda sekalian terbantu memegang teguh hak dasar kita ini demi kemajuan Indonesia.
Kami banyak belajar dari pengalaman kegigihan masyarakat Papua dari kabupaten Maybrat, sekalian miskin, terpelosok, jauh di dunia antah berantah, tapi sangat mengherankan mereka sangat tekun saling membantu untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka sampai di perguruan tinggi. Apalagi yang akan dapat Anda peroleh dari buku digital ini? Masih banyak euy ..
Read More...
Summary only...
Untuk Hari Ini
Babu Negara
Olkes Dadilado
Education21
Rairo
Geworfenheit
Kodrat Bergerak
Chi Yin
aha!
John's blog
ambar
andreas harsono
bibip
Space & (Indonesian) Society
dreamy gamer
sundayz
wadehel
rudy rushady
Timor Merdeka
G M
Karena Setiap Kata adalah Doa
Sarapan Ekonomi
wisat
Adhi-RACA