Indonesia tengah menghadapi darurat narkoba dan Presiden Jokowi memilih hukuman mati sebagai solusi. Alasannya, hukuman mati merupakan tindakan tegas demi penyelematan bangsa.
Persoalannya, dalam memilih solusi presiden mengabaikan kenyataan bahwa antara darurat narkoba dan hukuman mati ada jurang tanpa jembatan. Apa implikasinya jika tidak ada jembatan?
30 November 2015
Jembatan yang Diabaikan
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
6:24 PM
0
komentar
Label: hukuman Mati, narkoba, pengadilan sesat, penyiksaan
26 November 2014
Menantikan Sang Pemenang
SELEPAS hiruk-pikuk pemilihan pimpinan DPR dan MPR, seorang anggota Koalisi Merah Putih menyatakan senang koalisinya berhasil duduk di pimpinan DPR dan MPR.
Sementara anggota Koalisi Indonesia Hebat meresponsnya dengan pernyataan bahwa dalam berpolitik, kemenangan yang sesungguhnya tidak saat mendapatkan kedudukan, tetapi saat mendapatkan dukungan rakyat. Baik Koalisi Merah Putih maupun Koalisi Indonesia Hebat tak menyadari, di dalam berpolitik, kemenangan tak berarti menjadi yang pertama dan menduduki jabatan utama. Kemenangan juga tidak berarti dapat dukungan rakyat.
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
10:23 AM
0
komentar
Label: Bhutan, DPR, eksploitasi, GNH, indek kebahagiaan, Jokowi, MPR, Pemenang
20 September 2014
Politik Malin Kundang
Diposting oleh
chelluz
di
10:33 PM
0
komentar
Label: Ahok, Basuki, DKI Jakarta, pemerintah
09 September 2014
Kebun Karet Berdarah di Desa Janah Jari
Diposting oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
2:37 PM
0
komentar
Label: Barito Timur, kalimantan tengah, kebun karet, Kekerasan, Konflik
21 August 2014
Komunitas Adat Delang yang Ingin Menjadi Tuan ditanah Sendiri
Bila kita melakukan perjalanan dari kota Palangkaraya sampai kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah, kita akan menyaksikan satu panorama tunggal dalam wujud perkebunan sawit. Kalau perjalanan itu kita lanjutkan sampai ke perbatasan Kalimantan Barat, kita akan temukan satu lingkup kecil wilayah adat yang hutannya relatif masih rapat. Di wilayah ini bermukim komunitas adat Delang, sebuah komunitas adat yang sejak lama bersepakat untuk menjaga keutuhan hutan dan wilayah adat mereka di tengah serbuan investasi perkebunan sawit dan pertambangan di Kalimantan Tengah.
Diposting oleh
chelluz
di
11:37 AM
0
komentar
Label: budaya, kalimantan tengah, Kebijakan, pemerintah, pendidikan, perempuan, sawit, The Institute for Ecosoc Rights
02 April 2014
Kewajiban Negara Bayar ”Diyat”
Diposting oleh
chelluz
di
10:21 AM
0
komentar
Label: buruh migran, Civil society, hukuman Mati, Kekerasan, perempuan
07 February 2014
Anak Putus Sekolah Jadi Penggali Batu Mangan
Meri tak banyak bicara, pertanyaanku tak semua dijawab. Ia sibuk dengan pekerjaannya mengajun lingis kecil dan menancapkannya ke tanah lalu mengais tanah dengan tangan mencari batu batu mangan.
3 tahun sudah Meri menekuni pekerjaan mengali batu mangan tanpa ada yang peduli dengan haknya untuk sekolah. ketika saya bertanya "apakah Meri punya kerinduan untuk kembali sekolah?" Ia tak menjawab, beberapa saat Ia menundukan kepala lalu kembali membongkar tanah
Hari itu Meri tak sendiri, Ia ditemani oleh adiknya Fransiska. Saya makin tercengang ketika mengetahui Fransiska sama sekali tak pernah menikmati bangku sekolah padahal umurnya sudah 9 tahun.
Foto: chelluz.ecosocrights.2011
lokasi: Atambua-Kab. Belu-NTT
Anak Putus Sekolah di Lokasi Pertambangan
Buruh murah tanpa jaminan keselamatan & kesehatan kerja
Diposting oleh
chelluz
di
3:30 AM
0
komentar
Label: buruh, Kemiskinan, lingkungan, Nusa Tenggara Timur, pendidikan, putus sekolah, tambang







Untuk Hari Ini
Babu Negara
Olkes Dadilado
Education21
Rairo
Geworfenheit
Kodrat Bergerak
Chi Yin
aha!
John's blog
ambar
andreas harsono
bibip
Space & (Indonesian) Society
dreamy gamer
sundayz
wadehel
rudy rushady
Timor Merdeka
G M
Karena Setiap Kata adalah Doa
Sarapan Ekonomi
wisat
Adhi-RACA