21 November 2006

Calo & Pahit Getirnya Mengurus Paspor

Yulius Nurendra Efendi

Pengalaman mengurus paspor sendiri di kantor Imigrasi Surakarta, membuat saya mengetahui bagaimana bobroknya kondisi birokrasi di negeri ini. Berawal dari undangan rekan di negeri seberang, membuat saya pergi ke luar negeri. Hal ini juga yang mengharuskan saya memiliki dokumen paspor.

Tanggal 18 oktober 2006, saya datang ke kantor Imigrasi Surakarta. Saya bawa semua persyaratan lengkap. Di dalam kantor tersebut memang terpampang dengan jelas tentang syarat, prosedur dan tarif untuk pembuatan segala macam surat atau dokumen keimigrasian. Apakah juga sejelas itu proses yang kemudian saya jalani?

Saat memasuki pintu kantor tersebut, kerumunan calo sudah menunggu. Mereka menawarkan jasa pengurusan paspor dengan janji lebih cepat selesai. Tentunya itu bukan tawaran gratis, tapi aku harus membayar uang lebih kepada calo tersebut. Tarif yang dipasang para calo bisa dua hingga tiga kali lipat dari tarif resmi yang hanya Rp200.000. Karena memang dari awal saya berniat untuk mengurus sendiri, maka tawaran calo tersebut saya abaikan. Padahal jika saya terima tawaran tersebut, dia bisa menguruskan paspor saya hanya dalam waktu sehari. Sedangkan ketentuan resmi yang tertulis di papan pengumuman harusnya dua hari.

Saya mulai urus sendiri pembuatan paspor saya. Pertama, saya membeli formulir/berkas pengurusan paspor seharga Rp10.000. Untuk pembelian ini, saya tidak mendapatkan kwitansi bukti pembelian. Inilah ketidakberesan pertama yang saya jumpai.

Setelah saya isi lengkap formulir, kemudian saya serahkan lagi berkas tersebut dengan dilampiri persyaratan lain. Proses selanjutnya dimulai dengan pemeriksaan berkas oleh petugas. Ketidakberesan kedua segera terjadi. Meski semua berkas telah lengkap diisi dan syarat telah komplit, sepertinya petugas ingin mencari kesalahan. Entah apa maksudnya. Akte kelahiran yang saya lampirkan sebagai syarat permohonan dipermasalahkan. Petugas meminta saya melengkapi dengan syarat lain yaitu ijasah terakhir. Artinya saya harus kembali lagi besoknya, karena saat itu saya tidak membawa ijasah yang dimaksud. Padahal di papan pengumuman akte kelahiran dan ijasah sifatnya opsional, yaitu saling menggantikan.

Keesokkan harinya, saat ijasah yang dimaksud sudah saya bawa, petugas tersebut malah mengabaikan ijasah tersebut begitu saja. Sedikitpun ijasah saya tak ditanyakan. Ini membuat saya serasa dilecehkan. Yang membuat saya naik pitam, pada proses berikutnya berkas saya sempat tidak jelas keberadaannya. Setelah saya desak, barulah petugas tersebut memprosesnya. Meski untuk itu, saya harus menunggu lebih lama lagi.

Setelah berkas kembali diproses, tahap selanjutnya adalah foto untuk paspor. Untuk keperluan ini, saya harus membayar Rp55.000. Kali ini barulah diberikan bukti pembayaran. Anehnya, orang yang datang dan memasukkan berkas jauh dibelakang saya, justru dipanggil untuk foto duluan. Baru saya sadar bahwa yang menjadi korban calo bukan saja para pengguna jasa calo, namun juga para pencari paspor dengan jalur resmi. Kami jadi digusur-gusur ke urutan yang lebih belakang oleh orang-orang yang membayar lebih pada calo tersebut.

Setelah difoto, lagi-lagi petugas sepertinya ingin mengulur waktu lagi. Dengan alasan bahwa proses selanjutnya menunggu persetujuan dari Jakarta, ia mengharuskan saya menunggu seminggu lagi. Kali ini saya memahaminya karena akan ada liburan lebaran yang menghalanginya.

Saya pikirkan benar peristiwa itu. Ketidaktahuan mengenai proses yang sebenarnya, menyebabkan saya mengiyakan saja perintah petugas tersebut. Hal ini pasti juga dialami oleh pencari paspor yang lainnya. Proses yang berjalan tak seperti yang terpampang di papan pengumuman. Ketidakjelasan nasib berkas yang kami ajukan, membuat kami seperti jadi bulan-bulanan permainan petugas.

Tanggal 30 Oktober 2006, seperti yang dijanjikan petugas, sayapun kembali lagi mendatangi kantor Imigrasi. Lagi-lagi pelayanan yang diberikan sangat lambat. Dengan alasan harus melewati beberapa meja dan persetujuan, saya diharuskan menunggu dan menunggu lagi. Itupun saya harus beberapa kali menanyakan dengan setengah protes kepada petugas. Sejauh mana berkas saya diproses?

Setelah menunggu hampir 4 jam, dokumen pasporpun baru jadi. Kami pun harus membayar Rp 205.000, dengan rincian Rp200.000 untuk pembayaran buku dokumen paspor dan Rp5.000 untuk sidik jari. Kalau dihitung dari proses awal hingga akhir, total yang harus dikeluarkan untuk pembuatan paspor, sebanyak Rp270.000. Padahal yang terpampang di pengumuman hanya Rp200.000. Mengurus dengan jalur resmi saja biaya masih bisa membengkak, apalagi dengan calo? Dari beberapa informasi para pengguna jasa calo, ternyata mereka bisa menghabiskan Rp500.000 s.d Rp600.000 untuk memperoleh paspor dengan waktu 1 s.d 2 hari. Inikah Indonesia?

See the English version.

16 comments:

Anonymous said...

memang miris, tapi begitulah kenyataannya. saya sendiri pada waktu membuat paspor di kantor imigrasi yogyakarta juga mengalami hal yang sama walaupun tidak terlalu menyebalkan seperti yang saudara alami.
yang saya alami, saya memasukkan formulir aplikasi (amplop kuning)pada hari jumat. dan saya diminta untuk foto pada hari selasa minggu berikutnya. paspor yang sekiranya langsung jadi sesaat setelah foto, tidak bisa langsung diambil hari itu juga, namun harus menunggu hari selanjutnya dengan alasan harus menrasfer data ke imigrasi pusat di jakarta (padahal setahu saya mereka menggunakan sistem online).
saya lihat beberapa orang juga dapat mendapatkan paspor dengan cepat (1 hari jadi) pada saat saya menunggu antrian untuk berfoto (walau saya tidak bertanya berapa mereka harus membayar untuk itu).
saya rasa kita hanya bisa berharap saja semoga birokrasi yang dibumbui korupsi waktu dan uang ini dapat perlahan-lahan hilang. amin. ;)

falcon_lady112

--ambar-- said...

begitulah Indonesia, saya punya pengalaman sama di Madiun membuat saya harus adu argumen dengan petugas imigrasi. Salam.

Anonymous said...

--- In apakabar@yahoogroups.com, "E34/M50" wrote:

yah itulah indonesia oom negara kita dimana tumbuh subur segala praktek korupsi dengan berbagai macam gaya nya....entah itu imigrasi, pajak, bea dan cukai, pulisi dll.......makanya terkenal dgn istilah KUHP = Kasih Uang Habis Perkara........hal sama yg saya alami dalam proses pengembalian bea masuk serta restitusi Ppn yang kenyataan nya tidak 100% kembali dimana kita harus bikin tawar2an harga kebeberapa pejabat berwenang....bikin SIM azaa susah banget..padahal juga terpampang tulisan "jangan bikin SIM lewat calo"...tetep azaa sulit...nah kalo kita masuk ke gedung bea dan cukai di Rawamangun terpampang tulisan "jangan memberikan uang tip kepada petugas"....dan coba deh nggak ngasih tip bakalan dokumen hilang serta proses nya bisa berulang2.............itulah indonesia oom dimana secara kolektif dan kompak mereka telah mendarah daging buat dapet uang tambahan....eforia masalah korupsi..diteriakan...??, dan korupsi jalan terus dengan tenang...kok bisa ?? hhmm...denger2 seh mereka pake sistem setoran ke atasan nya masing2 supaya langgeng dijabatan nya.....

Anonymous said...

Mega Christina < megachristina@....> wrote:

Hehehe... emang urusan ama Imigrasi itu reseh deh! UUD, ujung ujungnya duit. Apalagi lagi kalau tahu 'korbannya' bermata sipit, wow langsung mau mereka 'terkam'. Itu sebagian dari 'watak' korup birokrasi kita.

Tapi sebenarnya biaya Rp 260.000 itu masih biasa resmi. Rp 200.000 itu bukunya (48 halaman), Rp 55.000 atau Rp 50.000 itu biaya foto dan Rp 5.000 sidik jari (kalo baru), lama gak usah sidik jari lagi. Formulir mustinya gratis, wong yang mencetak negara. Tapi biasanya Koperasi atau kuperasi yang jualan.

Kalau alasan diputuskan Jakarta, wah itu mah ngibul! Wong sekarang Imigrasi hampir di semua pulau besar sudah terintegrasi (online integrated), sehingga gak usah menurut tempat domisili lagi. Wong udah pake BIOMETRIC system kok per Juli lalu. Lain kali bilang ke teman2 yang mau mengurus paspor, jangan mau dikibuli deh.

Satu lagi, 30 Nov nanti aku diundang Litbang Dephuk & HAM ikutan diskusi mereka. Mungkin akan aku sampaikan keluhan2 macam begini, biar Imigrasi gak jadi instansi paling brengsek di negeri ini. Kita kan juga pengen melihat Imigrasi kita berwibawa dan bermartabat.

salam,
mega

Anonymous said...

--- In Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com, Echo Ade Dharma wrote:

sejauh ini sama seperti yg terpampang di tiap2 loket perpanjangan paspor.yang lama adalah permohonan visa bila keluar dari asia tenggara.

Echo A. Dharma
Civil Servant Officer
CONSULATE GENERAL REPUBLIC OF INDONESIA
3457 WILSHIRE BLVD LOS ANGELES, CA 90010

luthfi assadad said...

ini kantornya yg di blulukan itu ya (colomadu) ?

indah said...

Manajemen mengurus paspor memang luar biasa kacau-nya. Loket-nya terlalu banyak membuat birokrasi bertele-tele. Pertama kali saya bikin paspor tahun 1997 di Jakarta Selatan. Saat itu sudah bikin stress setengah mati. Saya ingat sekali sudah menunggu di depan loket dan pegawai imigrasi loket itu nyuekin saya selama SATU JAM!! Saya mungkin hanya satu-satunya orang yang pada hari itu yang ogah pakai calo. Saya harus mondar-mandir selama tiga hari berturut-turut ngurus paspor. Perpanjangan paspor di tahun 2003 lebih dahsyat masalahnya lagi dan kebetulan di Tangerang karena pindah rumah. Saya mesti bolak-balik 4 kali ke kantor di Tangerang hanya karena loket-loket yang harus dikunjungi sudah tutup setelah jam 2 siang, sementara pelayanan dari satu loket ke loket lain bisa memakan waktu berjam-jam. Saya dibisikin supaya pakai "konsultan" (maksudnya calo). Kalau inget kejadian itu aja saya masih bawa-annya sewot. Bener-bener korup banget dan terang-terangan! keterlaluan sekali.
Di negara-negara EU yang sistem kependudukan-nya tidak pakai KTP, punya paspor bukanlah barang mewah tapi menjadi keharusan sebagai ID. Konsep kemilikan paspor sebagai dokumen mewah "bahwa akan ke luar negeri dst" mesti dirubah dan paspor harus diperkenalkan sebagai alternatif tanda identitas kewarganegaraan.

Anonymous said...

saya kok punya pengalaman yang berbeda yaa? tahun 2000 mengurus paspor di kantor yang sama (Imigrasi Surakarta) dua hari selesai tanpa calo! (mungkin lagi mujur yaaahh??)
memang begitu masuk halaman kantor itu sudah banyak yang nawarin untuk membantu (gak tau apa itu yang namanya calo atau bukan). Saya tolak saja secara baik-baik dan bilang bahwa saya juga calo.....hahahahahahaaaa....
urusan juga gak ribet kok, serahin semua syarat (termasuk ijazah dan akte kelahiran!) dilampirin juga surat dari kantor (universitas). Cuman 20 menit urusan beres dan diminta balik besok harinya untuk foto. Waktu foto juga gak banyak ngantri, mungkin sekitar sejam di KanIm urusan kelaaarr...biaya resmi Rp. 275K.

Anonymous said...

Hehehe
Di Jakarta selatan pun juga begitu :). Gw ngalamain 3 tahun lalu. Prosesnya sama seperti yang loe alamin, bedanya gw hanya sekali datang (tanpa di suruh pulang lagi) untuk berkas2nya. 1/2 minggu kemudian datang lagi untuk photo. Nah betenya pas lagi nunggu photo ada kenalan gw yang baru datang lalu langsun photo, ngelewatin gw yang udah nunggu sampai kurus :)
Passport baru bisa di ambil keesokan harinya. :)

Padahal kalo gw perhatiin para calo2 itu bebas masuk kebagian berkas2 tersimpan, lalu ambil sendiri :((.

Seharusnya di contoh daerah mana yah? lupa gw. Di depan terpampang berapa harga untuk nomar, cepat dan super cepat. Jadi sedikit mungkin calo akan tersingkir .


andri.andriani.web.id
btw salam kenal

Alda said...

Masalah urus paspor, suap menyuap mah itu udah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari-nya orang2 di kantor imigrasi.

Tapi ngomong-ngomong soal orang-orang imigrasi yang korup, beberapa waktu lalu saya bolak balik pulang ke Jakarta dari luar negeri. Tiba di Jakarta banyak orang yang ngasih duit ditempat supaya bisa masuk cepat tanpa harus ngantri berdesak-desakan secara terang-terangan. Keluar dari Jakarta juga banyak orang2 asing yg 'mungkin' overstay menyuap orang imigrasi ini didepan orang-2 yang ngantri untuk dicap paspornya supaya bisa keluar dari indonesia dengan cepat.

Sampai waktu itu orang imigrasi-nya bertanya ke meja kolega sebelah-nya,'mas, berapa kurs malaysian dollar ke rupiah yaah hari ini?'

DUH, bikin malu nih negara ku!

obot said...

Kalau begitu saya harus memuji kantor imigrasi bandung :)

tanpa calo, tanpa kesulitan, november lalu saya mendapat paspor dengan lancar. sesuai prosedur. ada satu 'cacat' sih, pembelian formulir memang tanpa kwitansi (sy lupa apa ada pengumuman ttg harga formulir atau tidak) tp lain2nya sesuai prosedur. o iya, satu lagi, petugas lupa memberikan satu borang (lupa borang apa), tp saya kemudian mendapatkannya tanpa kesulitan.

artinya.. masih ada harapan untuk birocrazy indonesia. or maybe i was just damn lucky hehe

Anonymous said...

jarang ada official yang jujur, kebanyakan lahan 'basah' seperti ini pasti digarap karena menghasilkan uang saku lumayan buat kantong mereka sendiri. korupsi susah diberantas karena tipisnya iman dan moral. awal mulanya dari kita yang suka memberi uang 'rokok' dari situ berkembanglah asumsi bahwa pelayanan publik harus dikasih uang 'jasa', sebenarnya kita sendiri yang membuat praktik korupsi ini exist. jujur saya paling malas disuruh urus surat2 ini itu yang mengharuskan saya berhubungan dengan orang2 seperti ini. saya muak sekali dengan para koruptor kroco ini. dan para koruptor teri ini bisa menjadi kakap suatu saat dan menghancurkan citra negara. memalukan sekali!

Anonymous said...

Saya juga mengalami hal sama ketika membuat paspor di imigrasi yogyakarta

Batu kerikil pertama saya adalah interviewer brengsek, elik, njelehi, sombong, n ga sopan!!!!!!!!!!!

Anonymous said...

iya, banyak yang mengalami hal yang sama, kalau saya pass berangkat dari bandara adisumarmo malah di cegat disuruh bayar viscal, padahal alamat saya di LN yang harusnya bebas. masih ingat orangnya ada ANDENG-ANDENG sebesar kerikil di bawah hidungnya, kalau ketemu orang itu dingat2 aja, jangan jadi korban dikibulin.

Anonymous said...

Saya yakin itu semua hanyalah ulah para oknum yang mau cari duit dengan cara tidak halal,
saya juga pernah mengurus paspor, memang itu semua adalah para calo yang berkedok sebagai biro jasa. Memang ada juga oknum pegawai tetapi tidak semua pegawai menjadi oknum.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang jujur.
saya tegas kan sekali lagi itu semua hanyalah ulah para oknum / calo yang berlindung di bawah nama besar imigrasi.
Sewaktu buat paspor saya juga pernah ditawari untuk dibantu oleh seseorang, dia mengaku sebagai orang yang bekerja di imigrasi, padahal dia tidak pakai seragam dan tidak mempunyai tanda pengenal pegawai. Mudah- mudahan yang akan datang, nama imigrasi menjadi bersih kembali. Saya hanya kasihan sama orang-orang imigrasi yang dijadikan kambing hitam oleh para calo / oknum

Anonymous said...

Emang kalian² ini orang yang seneng ribet.. Tp begitu ada kesulitan, merengek dan mewek ky balita aja...

Post a Comment