22 September 2006

Nasib Kangkung Oeba

Savitri Wisnuwardhani

SEKARANG Anda tak akan bisa lagi makan kangkung dari Oeba yang hijau, segar dan lezat itu, kalau Anda ke kota Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur. Soalnya, para petaninya sekarang sudah digusur oleh pembangunan hotel berbintang.

Campuran yang khas antara jenis tanah dan pasir setempat membuat “kangkung Oeba” tumbuh dengan subur dan menggiurkan selera. “Kangkung ini dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Kota Kupang,” kata teman asal ibukota NTT. Tapi, sekarang kangkung itu sangat sulit ditemukan lagi di pasar-pasar kota itu. Apa yang kemudian dilakukan oleh para petani itu —sebagai silih penggusuran dan kehilangan pekerjaan— untuk menghidupi keluarga mereka?
Padahal, bukankah kangkung (Ipomoea aquatica) adalah sayuran yang relatif murah? Dan sebenarnya juga mudah dijangkau oleh masyarakat miskin sekalipun. Restoran-restoran mahal pun membutuhkan dan menawarkan ke para pelanggan mereka. Para blogger pun menawarkan berbagai menu kangkung. Baru lihat fotonya sudah bikin ngiler. Tak diragukan kangkung sedap sekali. Kandungan nutrisi sayuran ini adalah zat besi yang sangat bagus untuk pertumbuhan anak dan ibu hamil.

Dari hasil penelitian independen oleh The Institute for Ecosoc Rights, sayuran itu sendiri terbukti sudah mampu mencegah banyak anak balita dari keluarga miskin terhindar dari busung lapar, asal orangtua mereka tekun memberi makan sayur pada anak-anak mereka. Proporsi bedanya di antara keluarga-keluarga yang selalu memberikan sayuran kepada anak-anak mereka mendekati selisih antara 43% untuk anak-anak gizi buruk dan 61% untuk yang bergizi baik (klik Tabel). Bukankah lumayan dahsyat dampak pemberian sayur pada kondisi gizi anak-anak balita NTT di tengah-tengah mahalnya harga lauk-pauk seperti ikan dan daging yang nyaris tak terjangkau oleh keluarga miskin?

Hanya di kota Kupanglah tumbuh jenis kangkung ini, yang menurut banyak orang rasanya sangat enak. Kangkung ini disebut dengan nama “kangkung Oeba” karena hanya tumbuh di daerah Oeb di dalam kota Kupang. Batangnya lebih besar dan daun-daunnya lebih lebar. Bahkan menurut beberapa ibu yang dulu sering memasaknya, kangkung ini lebih tahan panas bila dibandingkan dengan kangkung biasa. Itulah sebabnya, jika dimasak warnanya lebih kelihatan masih hijau segar.

Entah kapan dan di mana lagi para petani bisa menumbuhkan jenis kangkung ini. Persoalan pencaplokan tanah itu masih menggantung dan tak ditemukan kata putus yang menjamin rasa keadilan masyarakat. Sejarah konflik tanah ini juga sudah panjang. Dulu lahan pertanian kangkung Oeba dipegang hak miliknya oleh tujuh orang setempat. Kemudian disewakan kepada pihak Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Darat. Setelah sewa habis, tanah itu dikembalikan kepada salah satu dari tujuh pemilik lahan itu. Tahun 1988 Kantor Badan Pertanahan Nasional/Agraria menetapkan tanah itu sebagai tanah negara yang dikuasai pemerintah. Tahun 2005 kepemilikan tanah itu “tiba-tiba” tanpa sepengetahuan para pemegang hak milik sudah beralih ke tangan seorang investor yang siap akan menyulapnya dalam sekejap jadi hotel mewah.

Akibatnya, sulit untuk dihindarkan, banyak warga terutama para petani, baik para petani pemilik dan penggarap, protes keras terhadap rencana pembangunan hotel yang pasti tak akan ada banyak manfaat komprehensifnya untuk para petani. Pertengahan 2005 bersama dengan anak-anak dan istri masing-masing, mereka mendesak Gubernur Piet A. Tallo agar membatalkan rencana walikota S.K. Lerik.

Petani kangkung Oeba yang berjumlah delapan kepala keluarga itu akhirnya pasrah dan mengalah berhadapan dengan ketidakadilan. Sebab, tuntutan kebutuhan keluarga terus menantang mereka menemukan pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa langsung menghasilkan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari. Sekarang mereka beralih pekerjaan, misalnya, jadi pedagang karena sudah kehilangan lahan tanah untuk bercocok tanam. Banyak sekali petani yang bernasib seperti petani kangkung Oeba ini.

Perlahan namun pasti mereka tergusur oleh pembangunan yang berorientasi pada jasa dan perdagangan. Perubahan ini menyebabkan keluarga-keluarga itu menjadi lebih rentan terhadap kekurangan pangan dan rawan pendapatan. Sebagai petani kangkung mereka sudah tak punya harapan lagi. Mereka juga sulit menjadi mandiri lagi jika menanam tanaman lain di lahan lain entah di mana. Buntutnya mereka mengandalkan pekerjaan seperti buruh pabrik, buruh bangunan, pedagang asongan, pekerja serabutan, dll. yang tak tentu masa depannya di tengah kehidupan kota yang semakin menyudutkan peranan mereka.

Begitulah konsekuensinya ketika petani terpaksa beralih ke pekerjaan-pekerjaan lain dan tak bisa lain kecuali mengandalkan pekerjaan jasa dan perdagangan di kota. Ada banyak kejanggalan yang sulit kita mengerti mengapa kepentingan para petani –sekalipun mereka tinggal di wilayah yang berkategori kota– sangat kurang diperhatikan.

Dalam persoalan tata ruang kota Kupang, ternyata proporsi lahan sawah berpengairan mencapai hampir 60 persen dari keseluruhan penyebaran sawah sejenis di propinsi NTT —jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada di daerah pedesaan yang hanya sebesar 43,37 persen. Tapi, mengapa petani disingkirkan begitu saja? Boleh dikesampingkan kepentingannya? Semestinya kebijakan kota memberi penekanan pada masih perlunya pengembangan pertanian dan kegiatan ekonomi rakyat, sekalipun berkenaan dengan kebijakan perkotaan. Namun, para petani itu kini tergusur.

Kapan kita akan menjadi bangsa maju yang mendasarkan pembangunan umum ini di atas landasan pertanian yang kuat, di mana anak-anak masyarakat sederhana pun bisa menikmati sayuran yang bermineral tinggi seperti kangkung Oeba itu? Kapan? Apakah Anda masih sabar menunggu lagi?**

3 comments:

Anonymous said...

Thanks Savitri Wisnuwardhani atas tulisan anda yg secara baik telah membuka mata hati saya.

Saya asli orang Kupang dan pernah tinggal di Naikoten 1 Kupang. Walaupun saya tidak pernah mandi secara langsung di mata aer Oeba tapi saya tau persis dan beberapa kali pergi ke mata aer itu, untuk sekedar jalan-jalan, karena sekolah saya SMU Katolik
Giovanni waktu itu hanya beberapa meter jika melalui jalan pintas.

Saya sangat-sangat kecewa dengan keadaan ini. Entah NTT (Kupang) akan dibawa kemana lagi. Gaya pemerintahan yang masih
seperti Orde Baru yg selalu menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyatnya.

Saya tidak tau apakah arti KORPRI yang dulu diembam pemerintah sebagai abdi (read:pembantu/pelayan) negara dan abdi masyarakat masih ada atau tidak.

Tapi saya yakin slogan-slogan tersebut pasti sudah dilupakan, toh kita bisa lihat saat ini koruptor-koruptor dan penjahat
berkerah putih sedang senang-senangnya menikmati kekayaan dari hasil pencurian tanpa rasa malu.

Menyimak keadaan aer Oeba (yang menurut saya sengaja diracuni dengan bensin) dan lahan kankung oeba yang sudah di "jarah"
oleh pemerintah dari rakyatnya, hanya untuk kepentingan penguasa dan pengusaha maka saya melihat Kupang (NTT) tidak akan
punya hari depan.
Ketamakan hati dan rakus yang tidak henti-hentinya yang estafet dari satu pejabat ke pejabat baru lainnya sangat memprihatinkan.

Jikalau penduduk NTT dan rata-rata pejabat itu beragama Protestan dan Katolik, yang katanya punya Tuhan, tetapi kelakuan korupsi masih seperti sekarang ini maka saya sangat prihatin. Bayankan orang yang mengaku punya Tuhan bisa bebuat seperti ini.

Jika dibandingkan dengan Singapore, negara pulau dimana saya berdomisili saat ini, hampir sebagian besar pejabat negara ini
banyak yang sekuler (read: tidak beragama) namun mereka mampu membuat negara yg kecil menjadi negara maju pertama di ASEAN
dan kelima terbersih di dunia dari segi korupsi pada tahun 2005 dan kalau tidak salah kedua terbersih dari korupsi didunia pada tahun 2006.

Tujuan saya tidak untuk memprovokasi agama, tetapi lebih untuk membuka hati penguasa NTT saat ini dan yang akan datang, bahwa jikalau Firman Tuhan tidak mampu menegur hati nurani anda-anda yang menjabat, maka kira-kira apakah yang akan mampu menegur hati nurani anda-anda sekalian. Saya sarankan betobatlah hai para pejabat NTT, jujurlah dalam memimpin rakyatmu, sebelum datang yang lebih besar teguran bagi anda dan seluruh keluarga anda dan Tuhan Pencipta dan yang telah memberikan engkau kesempatan.

Yongki Pello
Alumni SMUK Giovanni Kupang 1994
Domisili : Singapore.

Anonymous said...

Hmmm kangkung oeba. baru denger sekarang. penasaran gimana rasanya.

Anonymous said...

Masih ada sadiki di pinggir2, dulu masih bisa cari belut dan kodok sekarang sonde bisa lai.

sayang, banyak view ke laut di Kupang sudah akan ditutupi oleh gedung hotel berbintang.

Post a Comment