27 May 2007

Hot Money

Reslian Pardede

The hot money phenomenon in Indonesian capital market has prompted a debate over the possibility of another economic crisis. Hot money is the very short-term fund from overseas that is invested in liquid instruments such as capital market instruments or foreign currency. Is the worry justified?

Considering the fact that the foreign reserve of Bank Indonesia is currently at its high record (USD50 billion) many believe that Indonesian government would be able to manage the would-be huge money outflow while keeping a crisis away from the economy. However, I would argue that the possibility of another crisis is just a matter of degree of the magnitude of the real problem itself. The fundamental problem of the hot money itself is often being played down. Even at a normal scale, hot money would create enormous volatility in the financial market especially that of the emerging market because of its size and its short-term period of investing.

Read More...

26 May 2007

Hot Money

Reslian Pardede

Fenomena hot money yang saat ini melanda pasar modal Indonesia menimbulkan banyak perdebatan mengenai kemungkinan terjadinya krisis ekonomi jilid dua. Apakah ini suatu kekhawatiran yang berlebihan?

Hot money adalah dana dari luar negeri dalam jangka waktu yang sangat pendek yang masuk ke dalam pasar finansial (pasar modal, pasar uang atau pasar devisa). Fakta bahwa cadangan devisa Bank Indonesia saat ini cukup besar (US$ 50 milyar) membuat banyak pihak yang percaya bahwa Indonesia akan mampu mengatasi larinya hot money ini tanpa menimbulkan krisis.

Tetapi berbicara mengenai dampak hot money menjadi krisis ekonomi hanyalah persoalan magnitude, seberapa besar, dari persoalan mendasar hot money itu sendiri. Pada skala yang normal pun, hot money itu sendiri sudah menyebabkan volatilitas yang luar biasa pada pasar finansial terutama di negara-negara berkembang (emerging market).

Read More...

22 May 2007

Sopir Taksi di Singapura

S. Prawiro

PENGALAMAN ini mungkin agak langka bagiku. Setelah sekian lama memakai jasa taksi, baru kali ini aku menemukan sopir taksi yang berbeda. Aku tercengang dan tak habis pikir dengan sopir taksi tersebut. Meskipun kejadian ini terjadi di Singapura rasanya sangat langka menurutku.

Waktu itu aku bersama teman kantor hendak pergi ke masjid untuk sholat Jum’at. Masjid agak jauh dari lokasi kantor kami yang ada di Science Park I. Begitu memperoleh taksi, kami sebutkan lokasi yang kami maksud, Starling Road. Padahal kami tak tahu rute mana yang harus kami lalui.

Read More...

17 May 2007

The Jakartan Dream

Berikut ini adalah tanggapan atas tulisan “Kekerasan terhadap Orang Miskin di Jakarta” dalam blog ini. Pemberi tanggapan adalah Fauziah Swasono, seorang peneliti masalah ekonomi, melalui sebuah milis. Kami unggah tulisan tersebut seijin penulis.


PERSOALAN orang miskin di perkotaan adalah persoalan kompleks. Benturan antara tugas pemerintah (pada level mana?), hak warganegara, dan simpati sosial sangat kental.

Sebelumnya saya akan kutip dulu dari Musgrave (klasik) bahwa tugas pemerintah itu ada tiga, yaitu stabilitas, pemerataan pendapatan, dan alokasi. Tugas pertama dan kedua hanya bisa dilakukan oleh pemerintah pusat. Tugas ketiga bisa dilakukan keduanya tetapi desentralisasi menjadikan tugas ini lebih banyak diemban oleh pemerintah daerah.


Mengapa tugas pertama dan kedua hanya bisa dilakukan pemerintah pusat? Saya langsung beri contoh. Misalnya pemda DKI berusaha keras agar warga Jakarta tidak ada yang miskin. Yang penghasilannya di bawah upah minimum (UMR) diberi santunan sosial sehingga minimal penghasilannya mencapai UMR. Lapangan pekerjaan yang diciptakan dari uang APBD pun dibuat, sehingga pengangguran di DKI menyusut tajam. Gelandangan disediakan rumah penampungan dan diberi makan gratis. Jalanan pun dibuat "bersih" dari pengamen dan pengemis.

Selesaikah? Belum. Karena ini akan menjadikan Jakarta menjadi magnet yang lebih kuat lagi bagi warga di daerah-daerah yang tidak melakukan hal yang sama. Akan semakin banyak orang yang tidak punya pekerjaan di daerah muncul di Jakarta dengan "Jakartan dreams".

Tentu saja, Jakarta tidak akan mampu menampung semua ini. Istilah ekonominya: ada eksternalitas dan daerah tidak akan mampu menginternalisasinya (piye toh istilahnya..). Pemerataan pendapatan adalah tugas pemerintah pusat. Dia yang punya akses dan kekuatan legal untuk menjangkau seluruh daerah. Pemerintah pusatlah yang bisa melakukan transfer pajak dan pendapatan dari daerah kaya ke daerah miskin.

Selain itu akan menginduksi orang miskin untuk tidak berusaha keras, karena sudah ada jaminan sosial. Ini dikenal sebagai Good Samaritans Paradox. Dan ini sudah terjadi di banyak negara dengan sistem jaminan sosial yang generous.

Bagaimana dengan usulan entry barrier? Sebagai suatu negara, kondisi ini ilegal, CMIIW. Setahu saya, tidak boleh ada hambatan mobilitas penduduk, barang dan jasa antar-daerah. Ini akan menambah distorsi. Ditambah lagi dalam era desentralisasi, kompetisi antar-pemda tidak membolehkan adanya hambatan antar-daerah. Orang boleh pilih mau tinggal di mana saja. "Voting with feet" kata Tiebout.

Jadi, memang tidak mudah menyelesaikan persoalan kemiskinan di perkotaan. Kalau pemda cuèk dengan pengemis, pengamen, dsb., maka dia juga akan dikecam oleh sebagian warga lainnya. Pasti kita sering dengar atau malah mengalami sendiri kejadian seperti pengemis atau pengamen yang melanggar hak orang lain dengan cara memaksa, menggores kendaraan, mengancam, bahkan menodong. Salahkah juga kalau pemilik mobil atau penumpang bis yang biasanya kelas menengah itu mengeluh dan protes?

Mereka bayar pajak, mereka berhak juga atas keamanan dan kenyamanan di jalan. Bukan salah mereka kalau mereka tidak miskin.

Saya sama sekali tidak setuju dengan cara kekerasan dalam menangani masalah orang miskin. Petugas yang melakukan kekerasan selayaknya mendapat hukuman juga. Tetapi menyuruh pemda (dalam hal ini DKI) bertanggungjawab penuh atas orang-orang miskin kota juga berlebihan. Jakarta tidak akan sanggup menyejahterakan semua orang miskin yang datang ke sini. Selama kemiskinan dan ketidakmerataan pembangunan/pendapatan masih jadi persoalan besar di negara ini, selama itu pula persoalan kemiskinan dan urbanisasi akan ada. Apakah pembayar pajak di Jakarta harus "dihukum" dengan menanggung arus orang miskin melalui urbanisasi?

Maka, saya menjadi heran kalau orang menggebu-gebu ingin jadi Gubernur DKI .. Apa dia malah gak pecas ndahe (red: pusing kepala).

salam
fau


Links
  • Charles M. Tiebout, The Community Base Study
  • Charles M. Tiebout, 1956, A pure theory of local expenditures, The Journal of Political Economy, 64 (Catatan: Inti teorinya adalah: orang sebagai voter bebas memilih buat menetap di daerah yang menyediakan barang publik lokal yang paling disukainya. Ini adalah salah satu dasar kompetisi antar pemda dg menentukan kebijakan pajak lokal dan barang publik lokal yang paling sesuai dg mayoritas penduduknya [asumsinya kepala daerah akan menjual program buat memenangkan pemilihan kepala daerah]).
  • Richard A. Musgrave, 1959, The Theory of Public Finance: A Study in Public Economy, New-York, McGraw-Hill. (Catatan: Musgrave adalah seorang guru dalam bidang public finance)
  • Richard A. Musgrave, 96, Theoretician of Public Finance, Dies (MARY WILLIAMS WALSH)

Read More...

15 May 2007

HERAN, AKU HERAN, AKU HERAN

Yan Koli Bau

SEBAGAI anak tanah yang lahir di Timor saya merasa malu karena para peneliti dari luar lebih dahulu berinisiatif mendalami persoalan seputar kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT), bahkan tidak hanya berhasil memahami tetapi sudah melakukan aksi.

Sebagai ungkapan rasa malu saya 'melamar' dan bergabung dengan tim kerja penelitian dari Jakarta itu, menyiapkan serangkaian kegiatan pengamatan dan diskusi tentang hasilnya. Topiknya kemiskinan, gizi kurang, gizi buruk dan busung lapar di Kupang dan di Jakarta. Tak seperti yang saya sangka sebelumnya, ternyata hal-hal yang saya temukan di lapangan sungguh mengherankan.

Pertama, ketika kami berbincang dengan beberapa orang di kantor pemerintah baik di provinsi maupun kabupaten dan di perguruan tinggi mengenai rencana akan melakukan penelitian tentang busung lapar, anehnya, respons mereka serta merta menanyakan berapa nilai proyeknya, berapa honor yang akan dibayarkan kepada orang yang terlibat atau dilibatkan?

Read More...

10 May 2007

75 Ribu untuk Dua Lembar Poster

Albert Buntoro

SIANG itu di tengah sengat sinar matahari, kami kedatangan seorang laki-laki yang mengaku petugas dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans). ”Selamat siang pak, saya dari K3, Depnakertrans yang ada di jalan Gatot Subroto,” kata lelaki yang usianya kira-kira sudah 50 tahunan itu.

Awalnya saya merasa curiga dengan kehadiran orang ini. Namun kemudian saya diyakinkan oleh selembar tanda pengenal yang tertempel di kantong pakaian seragamnya. Pada tanda pengenalnya tercantum nama ’Suwardi’, dan di bawahnya tertulis Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

Read More...

09 May 2007

Kekerasan terhadap Orang Miskin di Jakarta

Pengamen paling sering jadi sasaran tindak kekerasan aparat pemerintah. .. Sebanyak 66,1% dari korban mengalami kekerasan secara fisik. Mulai dari ditendang, diseret, disundut rokok, dijambak, dicekik, diinjak, dipukul, bahkan dipaksa telanjang.
ORANG miskin tidak hanya menanggung beratnya beban hidup sehari-hari. Mereka juga sering mengalami perlakuan buruk dari aparat pemangku hukum. Dari tahun ke tahun perlakuan-perlakuan buruk itu bahkan kekerasan semakin sering terjadi. Siapakah yang sering mengalami kejadian itu? Perlakuan seperti apa yang mereka terima? Berikut hasil pengamatan awal yang dilakukan Jakarta Center for Street Children terhadap 85 korban yang berhasil ditemukan di wilayah DKI Jakarta.

Walaupun orang dewasa (usia antara 19 sampai 55 tahun) merupakan kelompok yang paling banyak (58,8%) mengalami kekerasan, namun anak-anak di bawah usia 12 tahun juga tidak luput menjadi korban. Jumlahnya mencapai 8,2%. Begitu juga mereka yang lanjut usia (lebih 56 tahun) yang semestinya tinggal menikmati masa pensiun bersama anak cucunya sering menghadapi bentrok fisik dengan aparat. Jumlah mereka yang jadi korban kekerasan sebanyak 9,4%. Sedangkan anak usia remaja (13-18 tahun) sebanyak 22,4%.

Dari seluruh jumlah korban yang ditemui kebanyakan adalah laki-laki, sebanyak 72,9%. Korban berjenis kelamin perempuan mencapai 23,5%. Sedangkan 3,5% mengaku waria.

Jakarta Timur adalah lokasi paling sering terjadi tindakan kekerasan terhadap orang miskin adalah sebanyak 48,2%. Yang paling jarang adalah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan masing-masing 2,4%.

















Update:
Laporan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Bandung
Kekerasan terhadap Petani Meningkat Tajam: Januari-April 2007

Laporan Human Rights Watch, September 2006
Condemned Communities: Forced Eviction in Jakarta


Read More...

03 May 2007

Wabah Kematian di Sekitar Kita

Sri Palupi

DULU dalam masyarakat Jawa dikenal yang namanya “pageblug”. Pageblug ini semacam wabah kematian yang terjadi akibat serangan dari “makhluk tak dikenal”. Gejalanya, pagi sakit, sore harinya mati. Atau sebaliknya, sore sakit, paginya mendadak mati. Karena menyerang banyak orang, maka kusebutlah pageblug itu wabah kematian. Mereka yang terserang awalnya sakit dan meninggal dengan cepat. Gejala semacam pageblug ini, disadari atau tidak, kini tengah menghantui masyarakat. Tentu pageblug yang sekarang, beda dengan pageblug yang dikenal dalam budaya Jawa dulu.

Ada tiga wabah kematian yang menghantui kita hari-hari ini. Kusebut wabah karena kematian itu bukanlah kematian biasa, melainkan fenomenal, sebagaimana pageblug.

Pertama, kematian ratusan ribu orang akibat rentetan bencana. Dari tsunami, banjir, tanah longsor, dan sederetan bencana lainnya. Seluruh kematian ini menarik perhatian masyarakat dan menggerakkan jutaan orang untuk berkabung. Tenaga dan harta disatukan demi meringankan derita para korban. Kematian ini membuat demikian banyak orang memaknai kembali hidup mereka dengan cara baru. Bencana tsunati, misalnya, membuat manusia merasa demikian kecil. Hilang sudah keangkuhan terhadap materi. Demikian yang terungkap dari para korban yang selamat. Bencana yang menelan korban massal dalam satuan waktu tertentu itu menjadi kanal rasa duka yang memicu semangat untuk sama-sama berjuang menghadapi situasi baru. Situasi tanpa sanak kerabat dan orang-orang dekat, tanpa harta, pekerjaan dan rencana masa depan – yang semuanya musnah ditelan bencana.



Read More...

NTT: (Memang) [N]asib [T]ak [T]entu

Yan Kolibau

KETIKA mendengar singkatan yang dipelèsètkan ini dalam sebuah diskusi di bulan Desember 2006 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), telinga saya panas dan marah. Pasalnya sejak belajar SMA di Solo, Jawa Tengah, saya membayangkan kampung halaman saya sangat indah, para elitenya arif bijaksana. Dan setelah selesai kuliah saya akan kembali mengambil bagian dalam proses kesejahteraan yang akan segera nyata.

Tapi, apa yang terjadi?

Read More...

Warning! Hutang Baru Indonesia: Berita via SMS

$US600 juta hutang baru Indonesia
Potensi kerugian negara di BP Migas: US$2,3milyar



SMS 1
Indonesia [meng]ajukan [h]utang baru ke Bank Dunia [sebanyak] 600 juta USD, dan mencari tambahan dari ADB dan negara-negara kreditor untuk memenuhi defisit APBN 2007 sebesar 1,75 milyar USD. Apa arti pembubaran CGI? Apa kerja tim ekonomi (menkeu) yang hanya bisa tambah utang untuk [men]utup defisit? Rejim [h]utang sama dengan rejim antek penjajah.


SMS 2
Daripada tambah utang yang akhirnya kita didikte, mestinya pemerintah segera menindaklanjuti temuan audit BPK atas potensi kerugian Negara di BP Migas sebesar US$2,3 milyar. Baca tulisan saya: (1) di koran Media Indonesia 3 April 2007, (2) tulisan saya di buku berjudul “Indonesia's Economic Outlook 2007”, terbitan Bisnis Indonesia, edt Kurtubi. Kalau kami dari students, ya bergerak advokasi jalanan. Harusnya reshuffle lebih [ke] tim ekonomi. Semoga bisa disinergikan dengan gerakan mbak .. [red: The Institute for Ecosoc Rights, maksudnya]

dari Nafis/Ismad